Rabu, 28 Agustus 2013

Perlancongan ke Sumatro Part 1 ~Bencoolen / Bangka Hulu / Bengkulu~

Setelah berbagai aktivitas browsing yang backstreet sejak satu bulan sebelumnya, kini tiba saatnya mewujudkan perjalanan solo traveling ke Pulau Sumatro. Kenapa ya di usia saya yang sudah tidak tergolong muda ini, masih aja harus bekstrit-bekstritan? Tanya kenapa. Hahaha... Perjalanan ini sebenarnya tidak bertujuan, jadi ya murni random saja. Meski begitu, ada satu objek yang boleh jadi merupakan highlight dari perjalanan ini, yaitu Danau Kaco yang ajaib yang terletak di Dataran Tinggi Kerinci, Provinsi Jambi.

Saya sudah melakukan berbagai persiapan untuk perjalanan, mulai dari browsing informasi objek-objek wisata dan kuliner, memesan penginapan dan travel antarkota, mengunduh peta, mencari teman / host via media sosial CouchSurfing, membeli peta, sampai membeli buku Lonely Planet yang mahalnya gak kira-kira. Saya bahkan sampai membeli kipas elektrik mainan agar tidak kepanasan dan sebuah tabung plastik bening untuk menyimpan larutan tembakau untuk mengatasi pacet. Nampak touristy dan amatir memang, tapi ya mau gimana. Salah satu alasan saya membeli Lonely Planet adalah karena ada beberapa informasi penting mengenai pedalaman Sumatro yang nampaknya hanya bisa diperoleh dari buku tersebut (di Google ada sih preview halaman bukunya, tapi pas lagi seru-seru baca, tiba-tiba halaman selanjutnya tak ditampilkan).

Pagi itu saya bangun pagi sekali. Kalau tidak salah pukul setengah 5 pagi. Hal penting pertama yang wajib saya lakukan selepas bangun adalah defekesyen, namun apa daya, segala upaya saya untuk defekesyen ternyata gagal total (aduh). Sementara itu, waktu terus berjalan sampai tiba saatnya saya mesti bertolak dari rumah. Orang tua yang saya bekstriti ternyata berbaik hati mengantar ke bandara. Tiba di bandara, saya langsung check in dan bergegas menuju ruang tunggu keberangkatan. Penerbangan saya dijadwalkan pukul 8 pagi, sehingga saya masih punya banyak waktu untuk defekesyen. Defekesyen terbilang cukup sukses, meski bisa jadi belum tuntas. Setelah itu saya melanjutkan duduk-duduk sambil menunggu boarding. Rasanya berdebar-debar deh, bahkan sampai pengen pulang. Saat itu saya bahkan sempat berpikir, alangkah enaknya kalau pagi-pagi begini tidur-tiduran tanpa beban di kamar di rumah. Belum apa-apa udah homesick, hihihi. Mungkin itu salah satu sindrom solo traveling.

Pesawat mengalami keterlambatan ringan sehingga saya tiba di Bandara Fatmawati-Soekarno Bengkulu agak terlambat dari jadwal yang semestinya. Rupanya terlalu banyak berpikir "Aduh, nanti gimana ya, naik apa, dan mesti kemana" akan membuat panik dan memicu usus untuk berkontraksi sehingga membuat saya ingin defekesyen. Tapi akhirnya saya cukup berhasil menghilangkan pikiran buruk dan mencoba lebih menikmati perjalanan ini.





Gedung terminal bandara ini sangat kecil dan sederhana. Frekuensi jadwal penerbangannya pun rendah. Saya mematung sejenak di area pengambilan bagasi meski saya sama sekali tidak membawa bagasi. Saya mencoba mengikuti jejak orang lain yang bergelagat akan naik angkot namun rupanya semua penumpang dijemput. Sekedar untuk memastikan, saya bertanya pada polisi yang bertugas mengenai nama daerah tempat hotel saya terletak dan juga mengenai warna angkot yang mesti saya naiki. Ternyata hotel itu terletak di daerah Tanah Patah, sementara saya selama ini hanya tahu bahwa hotel tersebut terletak di Jalan Sutoyo. Sebelum berangkat ke Sumatro, saya memesan kamar di hotel tersebut (hotel X-Tra) yang tergolong BARU. Hotel itu saya pilih setelah browsing dan bertanya sana-sini. Rekomendasi hotel murah+bersih yang saya temukan di internet rata-rata hotel tua yang sudah sangat berumur dan berkaca jendela hitam, sehingga saya meragukan validitas rekomendasi tersebut. Pokoknya setelah pengalaman buruk di sebuah hotel yang roach-infested (yang gak murah juga) di Batam, saya menjadi sangat selektif dalam memilih penginapan.

Dari jalan raya di depan bandara, kita bisa naik angkot berwarna putih untuk mendekati pusat kota Bengkulu. Bahkan di dalam wilayah pagar bandara ada yang ngetem satu, jadi saya naik yang ngetem itu saja. Seorang bapak-bapak asal Jakarta yang nampak kebingungan dan tidak tahu apa-apa bahkan ikut-ikutan saya naik angkot tersebut. Angkot ini akan terminate di Terminal Panorama, dan dari situ saya harus melanjutkan dengan angkot berwarna hijau. Di dalam angkot, saya sempat mendengar pembicaraan warga lokal dalam bahasa Melayu Bengkulu yang khas. Bahasa Melayu yang dituturkan itu berakhiran 'o' dan sepertinya banyak menyerap kosakata bahasa Minang, namun tetap saja berbeda jauh dengan bahasa Minang. Pokoknya berasa kayak lagi di Malaysia deh. Oh ya, supir-supir angkot di sini ramah-ramah deh, dan sangat helpful. Enak buat ditanya-tanya. Begitu juga dengan warga setempat. Ngomongnya kadang mungkin agak sulit dimengerti, tapi umumnya penduduk Bengkulu yang saya jumpai terbukti ramah, jenaka, nyantai, tulus, sopan, jinak (eh?), dan tampak bahagia.

Menjelang tengahari, akhirnya saya sampai juga di hotel X-Tra. Ternyata kamarnya sudah available sehingga saya bisa langsung check-in tanpa harus menunggu sampai pukul 2 siang. Saya sempat meminta izin untuk menyurvei kamarnya terlebih dahulu sebelum memilih antara kamar economic dan kamar standard. Kamar standard bagus, bersih, minimalis, dilengkapi TV layar datar, full AC (maksudnya AC utuh), dan kamar mandinya pun di dalam dan simple; sementara kamar economic perabotnya agak usang, dilengkapi TV CRT kuno, ruangannya lebih kecil, dan kamar mandinya terletak di luar tepatnya di hujung koridor di lantai yang sama. AC-nya dong, bahkan dibagi dua dengan ruangan sebelah (sehingga ada lubang kecil di dinding). Sekarang baru deh saya paham kenapa di Indonesia ada istilah FULL AC. Ternyata kamar economic ini jumlahnya di hotel ini hanya 2 buah dan jumlah kamar mandi luar (yang khusus tamu) di hotel ini juga 2 buah, sehingga pastinya gak bakal rebutan. Lagipula kamar sebelah gak ada yang nempatin, hehe. Hal lainnya yang saya suka adalah, ruang shower dengan WC dipisah seperti halnya di hostel-hostel di luar negeri. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan untuk menempati kamar economic dengan alasan budget. Lumayan lho, 2 malam hanya habis 240 ribu rupiah, dapet sarapan pula :D Sementara rate per malam untuk kamar standar adalah 180 ribu rupiah, berarti kalau 2 malam bakalan habis 360 ribu kan. Selain itu coba jalan-jalannya 2 orang; pasti bakal jauh lebih hemat berhubung satu kamar itu sebenarnya kapasitasnya untuk 2 orang.

Setelah naro barang dan istirahat sekejap, saya memustukan untuk mulai melanglang buana menjelajahi kota Bangka Hulu nan permai ini. Dari depan hotel saya tinggal naik angkot berwarna hijau dan bilang ke supir angkotnya mau ke Jalan Soeprapto, yang kabarnya merupakan kawasan jantung kota bandar ini. Tepat sebelum kawasan Soeprapto, tepatnya di sebuah persimpangan besar yang bernama Simpang Lima yang di tengah-tengahnya berdiri tugu pejuang berkuda, angkot hijau ini ternyata berbelok ke kanan, masuk ke kawasan pasar yang padat-padat authentic gitu, dan mengitari mall yang bernama Mega Mall Bengkulu. Tak lama kemudian, barulah angkot itu bermuara di Jalan Soeprapto. Di sini, saya memutuskan untuk turun lalu menjelajahi segalanya dengan berjalan kaki. Berhubung hari sudah siang, saya memutuskan untuk makan siang sejenak, lagipula kabarnya di dekat sini ada rumah makan mie Aceh yang mengasyikkan. Oh ya, dalam perjalanan menuju rumah makan mie Aceh ini, saya melewati Masjid Jami Bengkulu yang bersejarah yang letaknya berseberangan dengan hotel Samudera Dwinka yang merupakan salah satu hotel yang banyak direkomendasikan orang-orang (termasuk buku Lonely Planet) karena lokasinya strategis (untung aja saya gak percaya begitu saja dengan rekomendasi mereka, hotelnya sangat tua, creepy, dan jendelanya berwarna hitam gelap gitu. Hiiih).





Perut terasa semakin bergejolak mendekati rumah makan yang dituju. Namun alangkah sangat terperanjatnya saya begitu menyadari bahwa rumah makan yang dimaksud TUTUP... Sepertinya si pemilik rumah makan belum pulang mudik dari Aceh. Padahal jalannya lumayan jauh euy untuk ke situ, mana panas banget pula (langitnya biru cerah sih, hehe, dan sementara di Jakarta saya sering mengeluhkan keadaan langit yang keruh dan muram). Agar suasana tidak makin keruh, saya memutuskan kembali menyusuri Jalan Soeprapto dan mencari tempat makan khas lainnya yang tercantum dalam itinerary. Pilihan jatuh pada Saimen Resto & Bakery, yang ternyata sangat ramai dan penuh. Sukar ternyata untuk makan sendirian di tempat ini pada jam makan siang, karena semua meja dengan mudahnya terisi oleh pelanggan dan juga tidak ada orang yang bisa menjaga tempat sementara saya memesan makanan di counter. Selain itu di restoran ini tidak ada meja bar personal untuk mengakomodasi orang yang makan sendirian. Setelah sedikit jerih payah, akhirnya saya berhasil juga makan dan minum. Lumayanlah untuk mengisi perut, meski stok menu andalan mereka tidak tersedia.



Selesai urusan makan, saya lanjut berjalan kaki untuk menyusuri jalan yang berpangkal pada Simpang Lima yang terletak sangat dekat dengan restoran tadi. Ada 2 jalan yang sama-sama berpangkal di sisi selatan Simpang Lima. Menurut peta, jalan yang saya masuki itu harusnya bernama Jalan Fatmawati, namun ternyata nama sebenar dari jalan ini adalah Jalan Soekarno-Hatta (tertukar dengan nama jalan yang satu lagi). Di Jalan Soekarno-Hatta ini, saya mengunjungi rumah Soekarno, yang merupakan rumah bersejarah tempat Soekarno tinggal semasa masa pengasingannya di Bengkulu. Ada tiket masuk seharga entah 2500 atau 3000 rupiah (lupa). Ada beberapa turis lokal berbahasa Melayu yang juga mengunjungi objek wisata ini.







Setelah itu saya lanjut berfoto ke sebuah masjid besar nan megah yang terletak tidak jauh dari rumah Soekarno. Nama masjid itu adalah masjid At-Taqwa Bengkulu. Tapi ya seperti biasa, saya tidak mampir untuk solat :D Perjalanan kemudian saya lanjutkan ke objek berikutnya, yaitu Monumen Hamilton. Perjalanan menuju monumen ini melewati jalan 'pinggiran' yang cukup sepi dan memiliki trotoar yang bersih, rapi, dan teratur (pokoknya jauh lebih rapi daripada Jakarta deh). Informasi seputar tugu / monumen Hamilton yang beredar di Internet memang serba simpang siur. Ada yang bilang monumen Hamilton itu merupakan monumen yang besar yang terletak di city square / padang yang terletak di seberang rumah dinas Gubernur Bengkulu, dan ada juga yang bilang bahwa monumen Hamilton itu adalah tugu kecil yang saya kunjungi ini. Kesan yang dimiliki tugu kecil yang terletak di tengah-tengah persimpangan jalan-jalan 'pinggiran' ini adalah kusam, tak terawat, tak dipedulikan, dan pastinya sama sekali tidak terlihat seperti objek wisata.







Selepas itu saya melanjutkan perjalanan berjalan kaki menuju pemakaman Inggris. Dalam perjalanan, saya melihat perkampungan tradisional di lembah di sebelah kiri, dengan latar belakang Samudera Hindia di kejauhan. Beberapa rumah tradisional dengan arsitektur Melayu juga mendominasi tepian jalan ini. Tak lama kemudian saya pun tiba di pemakaman Inggris yang dituju. Pemakaman ini sepi namun antik dan cukup menarik, terutama gerbang depan dan rancangan pusara-pusara makam orang-orang Inggris yang tersebar di padang rumput yang nampak agak kurang terawat. Di sebelah padang makam ini juga terdapat sebuah gereja yang menguatkan suasana European yang gloomy. Padang makam ini dikelilingi oleh pemukiman (yang nampak tak resmi) warga yang dapat dengan bebas mengakses padang ini.






Setelah puas, saya melanjutkan menuju objek berikutnya yaitu rumah dinas Gubernur (rumah Raffles) dan juga padang / city square yang tadi, yang keduanya terletak berseberangan. Menurut Elmita, seorang anggota komunitas Couchsurfing Bengkulu, dulunya di padang / city square ini memang berdiri sebuah monumen menara Hamilton, namun kini monumen itu sudah dirobohkan dan diganti dengan menara tinggi modern yang berfungsi sebagai menara pemantau tsunami.

Senin, 05 November 2012





Sayembara
‘Menguak Misteri Sambal Nasi Lemak Melayu’
2013

1. Latar Belakang


Berawal dari pengalaman masa kecil di Malaysia, penyelenggara sayembara menyukai masakan khas Melayu, terutama nasi lemak yang akan terasa lezat dan selaras jika dipadukan dengan sambalnya yang khas. Setelah pindah ke Jakarta pada tahun 1996, penyelenggara tidak dapat lagi menemukan rasa nasi lemak yang sebenarnya. Yang ada hanya nasi uduk yang rasa nasinya serupa namun berbeda karena racikan sambal yang berbeda pula.

Tahun 2000-an ke atas, mulai bermunculan berbagai restoran khas Malaysia di Jakarta. Penyelenggara sempat mengunjungi restoran-restoran tersebut untuk mencicipi nasi lemak, termasuk salah satu restoran yang dengan bangga mengatasnamakan ‘citarasa otentik negeri jiran’, namun sampai saat ini penyelenggara belum berhasil menemukan rasa sambal nasi lemak yang sesuai dengan harapan. Hingga akhirnya pada tahun 2010 - 2012, penyelenggara sempat mengunjungi beberapa bandar yang didominasi etnis Melayu seperti Medan, Kuala Lumpur, Penang, Langkawi, Kuching, Singapura, Batam, dan Tanjung Pinang. Rasa sambal nasi lemak yang khas seperti harapan akhirnya berhasil penyelenggara temukan di Kuala Lumpur, yaitu di sebuah kedai nasi lemak legendaris yang terletak di tepi jalan. Dan sebenarnya masih ada 2 kedai nasi lemak legendaris lainnya di Kuala Lumpur yang belum sempat dicoba oleh penyelenggara. Di Medan dan Penang, penyelenggara tidak sempat mencoba nasi lemak mengingat singkatnya waktu kunjungan. Di Kuching, Singapura, Langkawi, Batam, dan Tanjung Pinang, penyelenggara sempat mencoba berbagai nasi lemak yang disiapkan oleh penduduk lokal (bahkan hingga ke pelosok perkampungan tradisional nelayan), namun rasanya belum ada yang benar-benar sesuai harapan.

Didorong oleh pengalaman tersebut, penyelenggara berinisiatif mencoba membuat sambal nasi lemak sendiri di Jakarta. Dengan mengumpulkan beberapa resep nasi lemak yang ditulis oleh warga negara Malaysia di internet, penyelenggara mulai mengumpulkan bahan dan mempraktekkan resep tersebut. Penyelenggara juga menyadari bahwa semua resep tersebut memiliki banyak kesamaan, di mana semua resep melibatkan penggunaan ikan bilis (ikan teri), belacan (terasi), air asam jawa, gula merah, gula putih, garam, bawang putih, bawang merah, bawang besar (bombay), dan cabai merah besar. Resep-resep tersebut juga menerapkan cara memasak yang seragam.

Percobaan demi percobaan berakhir dengan kegagalan. Penyelenggara kemudian menyadari beberapa kesalahan: ikan teri yang digunakan semestinya direndam terlebih dahulu agar tidak terlalu asin; cabai yang digunakan seharusnya dijemur terlebih dahulu agar mengering; dan yang mengejutkan, bawang yang digunakan di Malaysia ternyata berbeda. Penduduk Malaysia biasa menggunakan varian bawang merah berukuran besar dan bawang besar yang berwarna merah keunguan (red onion). Belajar dari kesalahan, penyelenggara mencoba membuat sambal untuk terakhir kalinya menggunakan bahan-bahan yang sudah disesuaikan. Penyelenggara berpikir untuk mengadakan sayembara ini jika percobaan terakhir gagal. Hasilnya? Memang cenderung lebih mendekati asli, namun sayangnya karena berbagai faktor, rasanya masih tetap tidak seperti yang diharapkan.

2. Tujuan & Manfaat


-          Menemukan kembali rasa sambal nasi lemak yang semestinya
-          Meluruskan anggapan yang sudah tertanam pada masyarakat (Indonesia) bahwa nasi lemak tidak lezat
-          Mengamati dan mempelajari dunia kuliner masyarakat Melayu
-          Melestarikan warisan budaya dan kuliner masyarakat Melayu (di Indonesia)
-          Melatih dan meningkatkan ketrampilan dan kepekaan peserta dalam memasak

3. Kriteria


-          Sayembara terbuka bagi semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa jurusan boga / hospitality, atau umum
-          Laki-laki atau perempuan
-          Usia minimal 16 tahun, maksimal 50 tahun
-          Memiliki ketrampilan memasak yang baik
-          Hasil masakan konsisten
-          Dapat mengikuti resep
-          Memiliki pengetahuan luas akan berbagai bahan, bumbu, rempah, dan teknik memasak, serta dapat menerapkannya dalam memasak
-          Perfeksionis (tidak mengganti bahan, tidak melenceng dari aturan)
-          Kreatif dan inovatif
-          Dapat menebak bahan-bahan yang terkandung dengan mencicipi makanan
-          Peka terhadap rasa makanan dan dapat membedakan kualitas rasa masakan
-          Mementingkan kualitas bahan masakan
-          Berkelakuan baik, sopan, jujur, terbuka, dan memiliki interpersonal skill yang baik

4. Seleksi


Proses seleksi akan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap seleksi dokumen (), tahap ujian praktek (), dan tahap wawancara (). Hanya akan terpilih 1 orang pemenang.

Calon peserta dapat mengikuti sayembara dengan mengirimkan ikhtisar/esai/cerita/surat yang menarik mengenai diri sendiri. Tulisan harus mengandung biodata (nama lengkap, tanggal lahir, alamat kediaman, email, nomor telepon seluler, ID Facebook, ID Twitter, dan latar belakang pendidikan formal dan nonformal) dan deskripsi diri yang merangkum kriteria sayembara disertai berbagai cerita mengenai pengalaman yang berhubungan dengan dunia kuliner (dapat berupa pengalaman mencoba masakan, memasak, belajar, kursus, kuliah, lomba, masterclass, dan sebagainya). Tulisan boleh disertai foto diri, foto masakan yang pernah dimakan atau dimasak sendiri, dan lain-lain. Tulisan harus dibuat dalam format file .doc (bukan .docx) dan dikirim ke (alamat email). Kolom judul email diisi dengan judul “Peserta Sayembara Nasi Lemak”. Batas akhir pengiriman email adalah tanggal … Peserta yang lolos seleksi dokumen akan dihubungi oleh penyelenggara untuk maju ke tahap seleksi berikutnya.

5. Hadiah


Pemenang akan mendapatkan kesempatan mengunjungi Kuala Lumpur dan mendapatkan voucher belanja senilai Rp1.000.000 (satu juta rupiah). Dalam program kunjungan ke Kuala Lumpur, pemenang akan diajak berkeliling untuk mencoba berbagai masakan nasi lemak di tempat-tempat yang berbeda. Program akan dilanjutkan dengan belanja bahan dan homestay di rumah penduduk lokal untuk demo memasak. Tiket pesawat pulang-pergi, pajak bandar udara, akomodasi, dan transportasi selama program akan ditanggung penyelenggara sayembara.

Sabtu, 21 Juli 2012

Tanjung Pinang Trip ~Perjalanan Mencari Otentisitas~

peta Batam - Bintan

Ini kali kedua saya jalan-jalan bareng sepupu. Karena kita adalah pemburu authenticity, maka kami memutuskan untuk pergi melancong ke Provinsi Kepulauan Riau, tepatnya kota Tanjung Pinang dan Batam. Tujuan kami ke tempat ini selain untuk mencari authenticity, tak lain tak bukan adalah untuk memastikan samada budaya dan bahasa mereka memang bercirikan Melayu yang kental, dan juga untuk memastikan samada keadaan di sana memang mirip-mirip Singapore dan Malaysia (dalam artian banyak kedai kopi lokal dan kedai kopi Cina, banyak hawker centre, dan juga populernya Milo sebagai minuman yang digemari masyarakat lokal).

Kami mengambil penerbangan Lion Air dengan jadwal pukul 8.25 pagi dan mendarat (dengan sedikit menggerunkan berhubung landasannya pendek) di Lapangan Terbang Raja Haji Fisabilillah Tanjung Pinang sekitar satu jam empat puluh lima menit kemudian. Dari bandara kami naik taksi dengan tambang tetap Rp70.000 (Zona 3) menuju Hotel Sampurna Jaya yang terletak di pusat bandar Tanjung Pinang. Setelah tiba, kami langsung masuk kamar (yang terlihat tua dan creepy) untuk meletakkan barang. Setelah siap, kami kemudian keluar hotel dan berjalan kaki menuju pelabuhan Sri Bintan Pura yang terletak tidak jauh dari hotel untuk membeli tiket ferry menuju Batam yang akan digunakan esok hari. Dalam perjalanan, kami membeli otak-otak ikan dan sotong untuk dimakan selama berjalan (rasanya enak dan pedas, lagi gurih, gak seperti otak-otak yang di Jakarta). Setelah berhasil membeli tiket, kami menyempatkan diri untuk mencoba satu dari sekian banyak kedai kopi yang bertebaran di jalan utama bandar ini, yaitu Jalan Merdeka yang dipenuhi ruko-ruko authentic. Di kedai kopi yang terletak tepat di sebelah Kedai Kopi Pagi Sore ini (lupa namanya), kami memesan Roti Prata kosong dan es teh tarik :D Duh, roti prata dan kuahnya itu, enak dan authentic banget deh. Rasa karinya benar-benar terasa dan hampir mirip dengan kari di Singapore dan Malaysia (malah lebih pedas dan spicy), tidak seperti kari-kari palsu encer yang dijual di Jakarta yang mengembel-embeli diri sebagai makanan authentic Singapore dan negeri jiran (mungkin rasanya sudah disesuaikan dengan selera warga Jakarta kali ya, yang kebanyakan gak doyan kari, tapi kan malah jadi nanggung dan eneg gitu rasanya). Es teh tariknya agak aneh sih. Yaaah, mudah-mudahan saja kami saat itu memang sedang tidak beruntung...


persimpangan authentic Jalan Merdeka, Jalan Bintan, Jalan Pos

 
otak-otak khas KepRi


roti prata dengan kuah kari dan es teh tarik

Puas nyobain makanan, kami berjalan kembali ke hotel melewati Jalan Bintan, sebuah jalan kecil (lorong) yang lebih authentic lagi. Di ujung jalan, kami berjumpa Masjid Raya Al-Hikmah. Saya mampir ke masjid untuk jumatan sementara sepupu saya yang wanita kembali ke hotel untuk beristirahat dan menunggu saya selesai. Oh ya, jamaah yang solat Jumat ini rata-rata bercakap bahasa Melayu lho (terdengar sama dengan bahasa Melayu Singapore dan Malaysia)… bahkan beberapa dari mereka mengenakan baju Melayu. Meski sebagian besar penduduknya adalah Melayu, entah gimana kami merasa terganggu dengan warga pendatang (selain warga Tionghoa) dari belahan bumi Nusantara lainnya (no offense lho), misalnya pendatang dari Minang, tanah Batak, dan Jawa (karena mereka cukup banyak jumlahnya dan tak cakap bahasa Melayu (yang Jawa ya medok, yang Minang ya Padang, yang Batak ya Batak), jadi sedikit banyak mengurangi authenticity kota Tanjung Pinang :p). Di samping itu, bahasa resmi di kota ini adalah bahasa Indonesia, sehingga kosakata yang digunakan pada pengumuman, iklan, dsb. kebanyakan adalah kosakata bahasa Indonesia.


interior Masjid Raya Al-Hikmah

Usai Jumatan, saya kembali ke hotel untuk menjemput sepupu saya lalu kami memulai petualangan untuk menjelajah kota ini lebih jauh :D Kami menelusuri lorong-lorong authentic di Jalan Pos dan Jalan Pasar Ikan. Makin ke dalam, makin berasa suasana Chinatown-nya. Di Jalan Pos kami mampir ke Bintan Plaza untuk melihat-lihat. Di persimpangan di penghujung Jalan Pos, kami menemukan Hotel Tanjungpinang yang nampak sangat tua. Di dekat sini juga terdapat jalan kecil menuju dermaga Pelantar 1, yang merupakan dermaga untuk naik perahu menuju perkampungan Senggarang. Dari sini kami berjalan menyusuri Jalan Pasar Ikan yang authentic dan berbelok di ujung jalan untuk menuju Pelantar 2 yang juga authentic. Di ujung Jalan Pelantar 2, terdapat dermaga yang authentic yang bahkan dilengkapi dengan sebuah kuil Cina (cetiya) tepi laut. Dermaga ini juga tampaknya bila malam tiba akan berubah menjadi sebuah hawker centre tepi laut. Cihuy! So Singaporean / Malaysian.

interior Bintan Plaza

Jalan Pasar Ikan

Jalan Pelantar 1

kuil tepi laut: Cetiya Bodhi Sasana


Akau Laut Jaya Pelantar 2

Selepas itu kami berjalan ke arah sebaliknya dan menemukan sebuah kuil tua (Vihara Bahtra Sastra), yang merupakan salah satu wihara tertua di jantung kota Tanjung Pinang. Authentic gitu deh. Oh iya, wihara ini terletak di ujung Jalan Merdeka, yang mana jalan tersebut yang menjelma menjadi sebuah alun-alun kota (square) dan terminal angkot dengan 3 lane. Di tempat ini kami berjumpa kedai kopi yang tadi lagi, dan kali ini kami mencoba Kedai Kopi Pagi Sore yang katanya legendaris yang terletak persis di sebelah kedai kopi itu. Di sini kami memesan menu yang sama: Roti Prata dan Es Teh Tarik. Roti Pratanya gak seenak yang tadi, terlebih lagi rasa kuah karinya lebih mirip kuah gulai Padang daripada kari. Ngek! Doesn’t mean I hate Padangnese food, but we’ve come all this way from Jakarta to seek for the real flavor of Malay food. Meski begitu, es teh tariknya, woow… juara banget. Rasanya hampir mirip es teh tarik yang di Malaysia dan Singapore! Bisa dibilang kombinasi keduanya lah. Takarannya pas, buihnya tumpah-ruah, dan yang penting: ada rasa ITU-nya! Setelah puas, kami kembali menuju hotel untuk beristirahat.

terusan Jalan Pelantar 2


terusan Jalan Pelantar 2

 
town square

 
es teh tarik Kedai Kopi Pagi Sore

Menjelang petang, kami berjalan menuju Ocean Corner, di mana terdapat sebuah pedestrian plaza tepi laut dan sebuah monumen. Kalau malam tempat ini juga akan berubah menjadi sebuah hawker centre :D Di sepanjang jalan di tepi laut juga terdapat banyak gerobak yang menjual jajanan dan juga minuman dingin (es teh tarik, ice Milo, kopi) yang dilengkapi kursi-kursi yang disusun di pantai. Kami memutuskan untuk rehat sejenak di sini sambil menengadah menatap langit senja, selonjoran, dan minum segelas ice Milo. Oh ya, ice Milo-nya yummy banget deh! Dan ada rasa ITU-nya :p Latar pemandangan yang terhampar di hadapan kami adalah Pulau Penyengat. Masjid Putih Telur yang merupakan salah satu situs wisata bersejarah juga tampak jelas di pantai pulau itu. Ketika hari makin gelap, layar-layar tancap mulai dipasang agar orang dapat menonton acara TV sambil menyantap makanan ringan dan minum minuman yang menyegarkan.

Ocean Corner

Ice Milo

 
  
Pulau Penyengat


layar tancap


Setelah sekian lama beristirahat, kami meneruskan perjalanan menempuh jalan yang berlumpur menuju Monumen Fisabilillah yang di dasarnya terdapat pasar malam yang meriah dengan wahana permainan anak yang berwarna-warni. Tak jauh dari sini, kami juga berjumpa dengan hawker centre lainnya yang cukup termasyhur yang bernama Melayu Square. Kami memutuskan untuk mencicipi makanan-makanan di Melayu Square ini. Oh ya, begitu duduk di sini, jangan kaget bila semua vendor tiba-tiba berdatangan dan menyodorkan menu mereka masing-masing. Take your time, bersikap tenang saja, pilih-pilih dengan santai dan leluasa, kemudian putuskan mau pesan yang mana. Kami memesan seporsi laksa goreng, seporsi sotong bakar dengan nasi putih, seporsi roti prata kosong dengan kuah kari, dan tentunya es teh tarik lagi (gak bosen-bosen). Laksa gorengnya lumayan enak sih, dan mau makan seberapa banyak pun, tetap gak bikin eneg. Seandainya saja kita bener-bener lagi laper banget, pastinya nikmat banget deh makan itu. Sotong bakarnya… Gurih, enak, spicy, bumbunya menyerap sempurna, dan gak alot. Tapi gak selegit cumi tinta yang dimasak selama 3 jam juga sih. Roti prata kosongnya lumayan, cuma sayang kuahnya cenderung seperti gulai, bukan kuah kari. Tapi enak sih, gak seperti prata ‘nanggung’ yang di kedai kopi Pagi Sore tadi. Sepupu saya bahkan menyatakan bahwa sejauh ini, roti prata ini adalah yang paling disukainya. Dan es teh tariknya, wow! Yang ini lebih mirip Malaysia gitu deh.

pasar malam


Melayu Square

 
roti prata, laksa goreng, es teh tarik

 
sotong bakar

Setelah puas, kami naik angkot dari Melayu Square menuju Akau Potong Lembu, sebuah hawker centre paling termasyhur dan paling legendaris di Tanjung Pinang (bahkan di Kepulauan Riau mungkin). Naik angkot di sini gak perlu bingung. Tinggal tanya pengemudinya aja, lewat atau nggak. Seandainya nggak lewat pun, biasanya si bapak pengemudi akan mengiyakan dan akan sengaja menyimpang keluar dari trayek resmi untuk melewati tempat yang dimaksud, mengingat kawasan inti kota Tanjung Pinang ini memang tidak begitu luas. Jangan khawatir, karena tambangnya tetap Rp3000 per orang. Hanya perlu waktu 5 menit, dan kami tiba di mulut lorong yang diapit ruko yang merupakan jalan masuk menuju Akau Potong Lembu. Begitu kami tiba, wow… Hawker centre ini memang sangat ramai, authentic, meriah, semarak, riuh, spektakuler, dan berbagai kata lainnya yang dapat mendeskripsikan tempat ini. Bahkan menurut saya tempat ini jauh lebih meriah daripada hawker centre Jalan Alor di Kuala Lumpur ataupun Lau Pa Sat di Singapore. Meja-meja bundar lengkap dengan kursi-kursi plastik bertebaran di seluruh penjuru alun-alun yang diapit kompleks ruko-ruko tua yang authentic. Ratusan warga lokal memenuhi meja untuk makan besar ataupun ngemil sembari bercengkerama dengan bahagia bersama keluarga, kerabat, kawan, ataupun rekan mereka. Berpuluh-puluh food stall mengelilingi alun-alun ini, antara lain sate, lou mie, o luak, mie goreng, mie rebus, nasi ayam Hainam, aneka seafood, gonggong (siput laut khas Kepulauan Riau), minuman, dan bahkan dessert berupa pisang goreng keju susu yang yummy banget (setelah kami selidiki, ternyata karena menggunakan susu krimer kental manis impor bermerk Dairy Champ)! Sayangnya kami sudah kenyang, sehingga kami hanya dapat mencoba sebahagian kecil dari sekian banyak makanan yang tersedia di akau ini. Menurut referensi yang kami peroleh dari internet, gonggong terlezat di akau ini dijual oleh kakek-kakek tua bungkuk. Kami berkeliling untuk mencari kakek yang dimaksud dan ketika menemukan orang yang dimaksud, kami mengintai kakek itu sejenak. Sepupu saya yang sedari tadi memerhatikan seluruh pedagang di tempat yang luas itu bahkan meyakinkan saya, “Bang, kayaknya memang benar itu deh, karena cuma dia satu-satunya pedagang yang bungkuk. Dan dia jualan gonggong. Yang sebelah sana itu kakek-kakek juga tapi gak terlalu bungkuk dan dagangan utamanya gonggong.” Kami mencoba gonggong (isi 20 buah) dan pisang goreng keju susu yang sangat yummy tadi itu. Oh ya, gonggong itu baunya agak-agak amis air laut gitu deh (bayangkan bau air laut di dekat perkampungan nelayan), tapi begitu kami mencungkil dan mencoba isinya, ternyata rasanya lumayan juga, apalagi bila dicocol ke sausnya. Bagian yang paling enak itu yang bagian yang lunak dan slimy-nya (yang justru terlihat menjijikkan), sementara bagian yang kenyal di dekat kaki berduri dari zat kitin atau entah zat kapur itu, cenderung kenyal dan sulit digigit seperti halnya getah dan juga cenderung agak amis, seperti halnya cumi/sotong yang belum masak benar. Begitu disajikan, sedapat mungkin segera habiskan gonggong ini, karena kalau kelamaan akan berasa amis bila dimakan. Overall, kami tidak sampai tergolong doyan makanan ini (meski katanya banyak juga yang ketagihan mau coba makan lagi), tapi setidaknya kami telah menuntaskan salah satu dari beberapa objectives yang katanya wajib dilakukan di Tanjung Pinang: makan gonggong.

suasana hawker centre AKAU POTONG LEMBU yang semarak lagi authentic

Gonggong, siput laut khas KepRi

pisang goreng keju susu

Setelah puas menikmati suasana akau yang sesuatuk itu, kami naik ojek (tambang Rp5000 per ojek) yang mangkal di mulut lorong akau untuk kembali ke hotel tempat kami menginap. Agak-agak mengerikan sih, karena begitu kedua ojek yang kami tumpangi meluncur, kok sepupu saya dibawa melesat ke arah yang berlawanan gitu, memasuki kawasan gang yang gelap yang diapit-apit ruko, ngebut pula. Mana perempuan, sendirian lagi. Dan ketika saya nyampe di hotel, belum ada tanda bahwa sepupu saya akan tiba. Beberapa sepeda motor berlalu di jalan namun tak ada satu pun yang ditumpangi sepupu saya. Tapi untunglah akhirnya dia tiba setelah beberapa menit, kalo nggak kan, gila aja, gimana pertanggungjawabannya ini :P Gak lagi deh naik ojek malem-malem di Tanjung Pinang, daripada diculik. Mana ongkosnya cuma lima rebu lagi, bukankah tidak menutup kemungkinan si tukang ojeknya akan meminta ‘lebih’.