Kamis, 02 Februari 2012
Picturesque Beautiful Istanbul
Jumat, 06 Januari 2012
Akhirnya perjalanan itu terwujud juga ~Turki, Georgia, Azerbaijan~
Di sini, belum-belum saya sudah dihampiri oleh orang tak dikenal. Dia mengaku sebagai polisi turis dan ingin membantu menunjukkan arah menuju hotel ("Don't worry," katanya). Dia kemudian menanyakan nama hotel dan saya hanya menyebut nama Sultan Inn's Hostel dan menunjukkannya di peta (terpaksa, soalnya dia bersikukuh sih). Namun, dia bahkan tampak tak begitu yakin di mana letak hostel saya, namun setelah mengetahui nama jalan tempat hostel saya terletak, dia menjelaskan dan menunjuk ke arah kanan *duh itu mah saya juga tau deh Mas. Lepas dari urusan dengan orang itu, saya melanjutkan berjalan sambil menyeret koper yang menimbulkan bunyi bising (karena tanahnya dilapis pavements) sampai ke ujung Hippodrome. Dari situ saya menerka arah sesuai peta dan berjalan menuruni bukit yang curam. Tak lama akhirnya saya sampai juga di hostel.
Usai cek-in (sempat ditawari paket tur yang mahal oleh resepsionis, dan agak bingung menolaknya. Mana bahasa Inggrisnya kumur-kumur), saya tak bisa langsung masuk kamar karena saat itu baru jam 8 pagi... Matahari bahkan baru terbit 30 menit yang lalu. Dan seperti pada kebanyakan hostel maupun hotel, kamar baru bisa dimasuki pukul 12 siang. Oleh karena itu, saya ditawari untuk sarapan gratis di lantai teratas hostel terlebih dahulu (tumben hostel nyediain sarapan, hehe. Di hari kedatangan lagi :D )
Sarapannya lumayan. Menu utamanya sosis dan kentang-keju-krim. Juga tersedia beberapa jenis roti yang bisa disantap dengan butter atau keju krim. Untuk minuman, tersedia susu, air putih, teh, kopi, dan jus buah entah buah apa. Saya habiskan sekitar satu jam di sini untuk makan dan mencoba fasilitas wifi sekalian menunggu.
Usai sarapan, saya turun dan menitipkan koper agar bisa berjalan-jalan di kawasan sekitar hostel. Tujuan pertama saya adalah Masjid Sultanahmet, yang merupakan objek wisata terdekat dari hostel. Agak bingung mau masuk lewat mana, namun tak lama kemudian saya berjumpa serombongan turis yang sangat 'touristy' asal Tanah Air (so obvious :P) dan saya mengikuti mereka masuk ke masjid ini.
Ternyata interior masjid ini memang sangat indah bak lukisan. Atapnya yang berupa dome dihiasi warna-warna cerah perpaduan Ottoman dan Byzantine *sotoy. Setelah menghabiskan beberapa menit di sini, saya keluar dan mendapati sebuah stand yang dijaga oleh seseorang yang tiap beberapa detik sekali berseru, “Donation!”, meski sebenernya sumbangan untuk masjid ini nggak wajib sih. Karena merasa ribet, saya tidak memberi donasi :p
Tujuan berikutnya adalah Katedral Hagia Sophia yang tersohor dan termasyhur itu. Namun karena tidak menemukan pintu masuknya, saya kelewatan dan tahu-tahu saya sudah tiba di gerbang Istana Topkapi. Sebenarnya istana ini tidak begitu menarik minat saya, namun karena istana ini merupakan salah satu destinasi paling wajib dikunjungi di
Di halaman terluar istana, tepatnya di sebelah kiri saya, ada gedung gereja bersejarah yang bernama Hagia Irini (Cathedral of St Irene), namun tak terlihat satu pun turis yang memberikan perhatian pada bangunan ini, dan memang ternyata menurut print-an panduan wisata Wikitravel yang saya bawa, bangunan ini tidak dibuka untuk umum.
Setelah melewati courtyard pertama, saya harus membeli tiket yang cukup mahal dan melalui pemeriksaan x-ray agar dapat memasuki courtyard kedua. Duh, ternyata tripod dilarang di sini, sehingga tripod saya ditahan dan saya dapat mengambilnya kembali usai ekskursi. Di courtyard kedua, terdapat beberapa ruangan yang masing-masing berupa museum yang menyimpan benda-benda berharga peninggalan Kekaisaran Ottoman. Di sini juga terdapat pintu masuk menuju Harem, yang untuk memasukinya, turis wajib membayar lagi. Bagi saya yang menarik dari courtyard kedua ini hanyalah Imperial Council, sebuah ruangan dengan interior khas Ottoman *sotoy.
Oh ya, rata-rata ruangan museum di
Lanjut ke courtyard ketiga. Seperti halnya courtyard kedua, di sini juga terdapat beberapa ruangan pameran. Di tengah courtyard terdapat Audience Chamber yang juga dikenal sebagai Throne Room. Yang paling menarik dari courtyard ketiga ini adalah ruangan pameran benda-benda warisan Nabi Muhammad. Lafaz ayat-ayat Al-Quran diperdengarkan di ruangan ini, diiringi terjemahan ayat pada layar kaca. Awalnya saya mengira ayat-ayat Quran yang diperdengarkan di ruangan ini merupakan rekaman audio, namun setelah saya berpindah ke segmen lain dari ruangan ini, saya mendapati ada seorang qari di pojok ruangan yang memang membaca Al-Quran secara live. Kebanyakan turis asing maupun lokal tertahan di sini, tertegun mendengarkan ayat Al-Quran sambil menyimak terjemahan Inggris dan Turki-nya yang berganti-ganti di layar kaca.
Di courtyard keempat, seingat saya hanya ada sebuah teras batu yang berlatar belakang panorama spektakuler Selat Bosporus dengan daratan berbukit (semenanjung
Setelah puas dengan istana ini, saya kembali untuk mengambil tripod saya yang tertahan, lalu keluar kompleks istana melalui gerbang lain istana di courtyard pertama. Di sini saya melewati Museum Arkeologi, namun saya mengabaikannya karena menurut saya museum tersebut kurang tinggi prioritasnya. Gerbang samping tersebut ternyata mengantar saya ke kaki lembah dengan jalan mobil yang juga dilalui rel tram. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak toko suvenir, restoran, toko kue, dan kantor penukaran uang. Saya memutuskan mendaki trotoar dan menuju Hagia Sophia yang termasyhur.
Lagi-lagi di sini ada pemeriksaan menggunakan x-ray, dan lagi-lagi saya terpaksa menitipkan tripod yang dilarang. Oh ya kalo ga salah di sini hujan lumayan lebat deh, dan payung saya dan sebagian dari saya kebasahan. Terlepas dari semua kesulitan itu, saya memasuki bangunan ini dan menikmati kemegahan dan kesurgawian interiornya. Fitur utama katedral-masjid yang telah beralih fungsi menjadi museum ini adalah kaligrafi Arab: Allah dan Muhammad yang mengapit gambar Yesus. Menurut buku petunjuk yang saya bawa, ada baiknya mengunjungi lantai atas dari bangunan ini melalui ramp yang letaknya agak tersembunyi. Setelah menemukan ramp yang dimaksud, saya mendaki tanjakan menuju lantai atas dan mendapati pameran lukisan dan juga dinding-dinding mosaik Nasrani abad pertengahan yang sangat dilindungi. Blitz dilarang untuk digunakan saat memotret karena dapat merusak dinding mosaik tersebut. Oh ya menurut saya dibandingkan sudut-sudut lain di dalam bangunan bersejarah ini, lantai atas ini merupakan sudut terbaik untuk mengabadikan suasana bagian dalam Hagia Sophia.
Usai dari Hagia Sophia, saya memutuskan kembali ke hostel untuk beristirahat sambil menanti waktu solat Jumat. Eh tapi dalam perjalanan menuju hostel, tiba-tiba cuacanya berubah ekstrim lho. Angin kencang bertiup beriringan dengan hujan yang tipis namun lebat. Suhu mendadak turun. Kaki sudah mulai sakit dan pakaian luar saya kebasahan semua. Walhasil, saya ketiduran dan kebablasan solat Jumatnya. Uhm, kan habis menempuh perjalanan jauh, kecapean, ngantuk, dan lagi di luar hujan angin dingin, dan pakaian belum kering *alasan. Kalo ga salah, saya ketiduran sampe jam 3an deh.
Setelah istirahat sejenak di hostel, saya kembali menjelajah kota Istanbul, melewati Hippodrome (yang sepertinya akan menjadi langganan saya selama di Istanbul) dan singgah sejenak di konter kebab untuk membeli doner ayam (tavuk doner). Kemudian sembari dengan pathetic mengunyah doner yang isinya terus berjatuhan dan mengotori lantai (oh no!), saya menyusuri jalan Divan Yolu yang termasyhur ke arah Beyazit. Kali ini saya bermaksud mengunjungi Grand Bazaar (Capali Carsi) yang termasyhur. Saat itu hujan masih saja turun rintik-rintik. Namun kali ini, semakin lama hujan turun semakin lebat. Saya membuka payung saya dan bisa dibayangkan betapa repot dan susahnya keadaan saat itu. Melangkah cepat sembari membaca peta (yang luntur karena terkena air hujan), menebak arah, mencocokkan keadaan lapangan dengan peta, mencari patokan, beberapa kali menginjak genangan air, berbecek-becek ria, kebasahan, memegang payung yang seringkali berubah terbalik karena angin yang kencang, mencegah payung mengenai orang lain, memegang makanan, mengunyah makanan, menjaga kamera agar tidak terkena air hujan (dan sepertinya mustahil memotret dalam situasi seperti ini), menjaga barang bawaan dari tangan-tangan jahil, dan menghindari gangguan-gangguan dari para calo, pengganggu, penjual, dan trader/greeter cafe yang sepanjang perjalanan saya terus menyapa dan bahkan memaksa turis-turis untuk singgah di cafe mereka. Semua dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu. Duh, mulai homesick nih :(
Akhirnya karena repot, saya memutuskan untuk menyimpan peta dan mempercayakan semuanya pada naluri navigasi saya. Awalnya saya sempat salah jalan, karena saya berbelok terlalu awal, namun saya terus mencari jalan yang nantinya akan membawa saya ke tujuan. Akhirnya, meski melalui pintu samping (Nurosmaniye Gate), saya memang sampai di Grand Bazaar. Tadinya saya mengira bahwa saya dapat beristirahat dan bersantai sejenak di Grand Bazaar ini: menghangatkan badan sambil berjalan dengan santai dan aman, melirik ke kiri dan kanan, sambil memotret-motret, namun ternyata saya salah besar. Keadaan di sini malah lebih buruk: ramai, penuh sesak oleh arus-laju manusia dari bebagai arah, dan tentunya penuh dengan penjual barang dagangan yang agresif dan sepertinya memiliki radar turis. Bukan tidak mungkin di sini banyak orang bertangan jahil yang memanfaatkan situasi untuk mencopet.
Sebagai gambaran, Grand Bazaar ini memang sangat luaaaas. Ada puluhan lorong labirin yang bersimpangan satu sama lain, dan tiap lorong dipenuhi oleh kios-kios yang menampilkan aneka barang dagangan, mulai dari pernak-pernik kecil sampai permadani. Keseluruhan kompleks pasar yang sangat luas ini tertutup atap, menjadikannya sebagai pasar indoor terbesar di dunia *kalo ga salah ya.... Sangat mudah untuk tersesat di tempat ini. Mengandalkan ingatan, saya berjalan lurus menyusuri jalan/lorong selatan pasar ke arah barat sampai jalan tersebut bertemu dengan jalan utama, yang kemudian membawa saya ke gerbang utara kompleks pasar ini.
Keluar dari pasar, ternyata hujan bertambah parah dan disertai angin musim dingin yang jahat, yang bertiup melewati lorong-lorong sempit di tengah padatnya pemukiman penduduk. Payung saya hancur total dan sudah tidak berbentuk. Seluruh pakaian saya basah. Meski begitu, saya meneruskan berjalan melewati lorong ramai yang diapit pemukiman. Lorong yang bernama Uzuncarsi Caddesi tersebut membawa saya menuruni bukit dan mengarah ke laut (Golden Horn Bay). Setelah beberapa menit (sempat tersesat dan panik), akhirnya saya tiba di sebuah pelataran luas yang terletak di tepian laut, di mana tiupan angin dingin terasa semakin kencang dan jahat. Di seberang laut, samar-samar terlihat daratan semenanjung bukit Galata yang dihiasi menara Galata yang dibangun pada abad pertengahan dan dipenuhi perumahan dan bangunan-bangunan beraneka warna yang seharusnya indah bak lukisan. Di tepi pelataran tersebut terdapat masjid yang sangat besar yang bernama Yeni Camii (masjid baru). Malangnya, saya praktis tidak dapat berbuat apa-apa untuk menikmati dan mengagumi keindahan tempat ini karena badai semakin hebat dan air hujan mengguyur dengan deras sehingga mengaburkan pandangan. Dengan pasrah, saya berjalan melintas pelataran luas tersebut dengan hati-hati.
Tadinya saya berencana untuk menunggu di suatu tempat di sekitar tempat ini karena menurut jadwal, pertunjukan tarian sufi (Whirling Dervishes) dan upacara Sema khas Turki akan dimulai pukul 19.30 di suatu gedung pusat kebudayaan Turki yang letaknya tak jauh dari situ. Dan untuk menonton pertunjukan itu, saya telah membeli tiket seharga 50 Lira (250 ribu rupiah) secara online dari Jakarta tepat sebelum berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta. Namun, keadaan yang dahsyat tersebut ditambah dengan dinginnya udara menyurutkan niat saya untuk menunggu. Saya tak tahu di mana saya dapat berlindung. Satu-satunya tempat yang dapat saya andalkan untuk berlindung hanyalah hostel yang dilengkapi dengan pemanas sehingga hangat.
Dengan penuh perjuangan saya berjalan menuju stasiun pemberhentian tram terdekat (Sirkeci). Di sini upaya saya untuk pulang terhambat karena token saya tersangkut saat dimasukkan ke lubang di pintu palang rintangan. Awalnya saya berpikir mungkin token yang saya miliki memang terlalu ringan dan tidak compatible untuk digunakan di stasiun tram. Namun dugaan saya keliru karena tak lama kemudian seorang pemuda Turki (atau entah turis) yang sepertinya juga terburu-buru hendak naik tram mengecek token saya yang tersangkut kemudian secara ajaib token saya terdorong masuk, dan ting-tong, lampu di pintu palangan rintangan berubah hijau. Kemudian tebak apa yang dia lakukan? Dia berjalan masuk dan melewati palang putar aja gitu, sehingga secara teknis, dia naik tram secara gratis, menggunakan token saya :O Memang sih dia sepertinya memang tidak sengaja dan terburu-buru. Duh. Berterima kasihlah. Setelah kejadian itu, dengan panik saya berusaha merogoh kantong dan mencari token lainnya yang tersisa, yang sangat sulit diambil karena bercampur dengan uang koin (Pelajaran penting: letakkan token dan uang logam secara terpisah!) Akhirnya saya berhasil menemukan token terakhir yang saya miliki dan memberanikan diri memasukkan token itu untuk kedua kalinya. Kali ini saya melakukannya dengan lebih yakin dan bertenaga (pelajaran penting lainnya: masukkan token dengan yakin dan bertenaga). Setelah segala daya dan upaya tersebut, saya berhasil naik tram untuk kembali ke area Sultanahmet. Bisa dipastikan seluruh penumpang tram saat itu dalam keadaan basah dan kedinginan. Lagi-lagi saya harus menyeberangi Hippodrome yang panjang dan luas itu dan menuruni lorong-lorong yang curam untuk mencapai hostel *kaki udah sakit nih. Begitu sampai di kamar, saya tidak membuang waktu lagi dan langsung tidur sejenak. Namun malang tak dapat ditolak, saya kebablasan. Begitu saya terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 19.40 dan rasanya mustahil untuk mengejar acara yang telah dimulai di gedung pertunjukan karena saya juga belum berkemas dan ditambah lagi cuaca di luar masih tidak bersahabat. Sudah tentu tiket saya hangus. Hiks. Bahkan saya tidak makan malam saat itu karena tidak tahu harus makan apa dan di mana.
Selasa, 11 Januari 2011
Bencana alam bernama Hujan
Hujan.
Apakah yang disebut dengan hujan itu? Menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia, hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Dan apa pula yang disebut presipitasi? Lagi-lagi menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia, presipitasi (juga dikenal sebagai satu kelas dalam hidrometeor, yang merupakan fenomena atmosferik) adalah setiap produk dari kondensasi uap air di atmosfer, yang dihasilkan ketika atmosfer (yang merupakan suatu larutan gas raksasa) menjadi jenuh dan air kemudian terkondensasi dan keluar dari larutan tersebut (terpresipitasi).
Kapankah terjadinya hujan itu?
Bisa dibilang hujan cukup sering terjadi (di Indonesia). Indonesia memiliki 2 musim tiap tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Frekuensi dan curah hujan pada musim hujan cenderung lebih tinggi pada musim hujan.
Lainnya
Menurut saya, hujan merupakan suatu fenomena alam yang sangat sering terjadi, yang sudah diatur sedemikian rupa untuk memberikan manfaat dan keseimbangan bagi alam dan manusia. Hujan juga merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses siklus air. Tentunya sangat banyak manfaat bisa dirasakan manusia dengan adanya hujan, antara lain manfaat bagi tanah, tumbuhan, hutan, dan lahan pertanian. Meskipun begitu, saat ini banyak manusia cenderung merasa terganggu dengan fenomena alam ini. Hujan yang terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan bencana banjir. Cuaca buruk yang disertai hujan juga seringkali mengganggu jadwal penerbangan dan pelayaran.
Namun tulisan kali ini bukan mau membahas lebih lanjut proses terjadinya hujan ataupun dampak hujan secara ekologis maupun ekonomis, melainkan kecendrungan manusia (Indonesia) menanggapi hujan. Hujan seringkali dianggap sebagai suatu halangan untuk melakukan aktivitas, contohnya yang paling umum bepergian. Dari pengalaman saya, kebanyakan orang mengurungkan niatnya bepergian (untuk janjian ketemuan misalnya) apabila hujan turun, ga peduli mereka mau bepergian naik motor, jalan kaki, naik kendaraan umum, ataupun bahkan mobil pribadi. Bahkan sebagian ga bersabar menunggu sampe hujan berhenti dan langsung seenaknya memutuskan batal bepergian (untuk ketemuan) ("Aduh, apa gak jadi aja ya? Hujan, cuyy/jeung..."), meskipun orang itu bepergian naik mobil. Pejalan kaki meskipun misalnya bawa payung pun seringkali kalau belum berangkat, mengurungkan niat, atau klo udah terlanjur berangkat jauh, berteduh lalu menunggu sampai hujan reda. Bagi pejalan kaki mungkin alasannya ga mau kena basah, tapi bagi pengendara mobil, apa ya alasannya? Takut macetkah? Apa masih takut kebasahan juga? :p Tapi terlepas dari semua akibat dari hujan yang menghalangi orang bepergian, entah kenapa biasanya hujan membuat orang kehilangan mood duluan, atau keburu males buat pergi, meskipun sebenernya kalo diusahain sebenernya bisa aja pergi. Tadinya saya kira hanya perempuan yang seperti ini, namun ternyata laki-laki juga. Dulu waktu kuliah, pernah hujan nanggung, sedikit lebih lebat dari gerimis, tapi sama sekali bukan hujan lebat. Waktu itu jam pulang kuliah. Ketika saya bermaksud jalan kaki sambil menggunakan payung, seorang teman yang seorang laki-laki, yang biasa naik angkot, memilih untuk menunggu sambil berteduh, meski saat itu dia membawa payung. Jarak dari tempat berteduh menuju angkot hanya sekitar 20-30 meter. Terus saya bertanya, "Sampe kapan nunggunya?" dan dia berkata akan menunggu sampe hujan reda, padahal saat itu hujannya ga deres-deres amat. Akhirnya saya pergi duluan karena menurut saya bakal rugi waktu kalo nungguin sampe hujan reda. Dan seingat saya ternyata waktu itu hujan turun lebih dari 2 jam, dan waktu itu jam pulang kuliahnya jam 4an. Berarti kalau dia benar-benar menunggu sampai hujan reda, dia baru beranjak pulang jam 6an. Saya sempat berpikir, apa gak sayang waktunya kebuang sampe 2 jam, dan ga ngapa-ngapain selama itu melainkan cuma berdiri nunggu doang. Dan dia beralasan "Apa boleh buat, hujan sih". Hal serupa terjadi waktu saya berwisata di Thailand bersama seorang teman saya yang laki-laki. Saat itu kami baru keluar dari stasiun kereta dan hujan turun agak deras. Kami berteduh sejenak, dan sebenarnya bermaksud meneruskan ke sebuah mall yang kira-kira berjarak 50 meter dari situ. Dan kala itu hanya saya yang membawa payung (kecil). Dan dia ternyata bermaksud menunggu di situ (tepian sebuah ruko tua yang tidak terurus) sampai hujan reda. Namun saya berpikir, kami tidak tahu kapan hujan akan berhenti. Bagaimana kalau ternyata hujannya lama, katakanlah 3 jam? Bukankah waktu berlalu sangat cepat, dan sedetik waktu liburan di Thailand itu sangat berharga? Yah akhirnya kami memang menerobos hujan (atas paksaan saya) dan menyelamatkan lebih banyak waktu (1 jam) yang tadinya akan terbuang. Pernah juga, waktu saya berkumpul bersama teman-teman laki-laki di kosan seorang teman kuliah yang terletak tidak jauh dari kampus (5 menit jalan kaki), tiba-tiba hujan turun padahal saat itu kami harus segera ke kampus karena ada kelas yang segera dimulai. Dan mereka tampak kebingungan dan mengeluh seolah sedang ditimpa suatu kejadian yang menghalangi kuliah. Biasanya kami memang berjalan kaki apabila menuju kampus dari kosan itu. Ketika saya mengusulkan untuk menggunakan payung, mereka tampak agak enggan, meskipun akhirnya mereka tetap berjalan kaki menggunakan payung. Akibatnya kami basah sedikit sih, tapi yang penting kan sampe juga di kampus.
Kadang saya merasa rada gemes dengan perilaku sebagian orang yang langsung 'menyerah' begitu saja hanya karena hujan. Padahal hujan itu kan fenomena yang kerap terjadi dan merupakan peristiwa yang biasa, yang semestinya tidak menjadi halangan untuk melakukan suatu kegiatan. Lain halnya sih kalau hujan badai atau hujan petir. Tapi kalo hujan sedikit aja langsung pada ogah ini-itu, bisa-bisa lumpuh semua kegiatan di perkotaan. Maksudnya, baru hujan aja udah begitu, gimana kalo ada angin topan? Saya kagum dengan orang-orang di Jepang yang tetap berjalan kaki dan berpayung meskipun sedang hujan deras. Di sebuah video, saya memperhatikan orang-orang tetap menyeberang seperti biasa di persimpangan Shibuya dengan payung mereka tanpa berteduh lebih dahulu, dan tanpa mempedulikan hujan. Dan satu hal lagi yang agak menakjubkan adalah fakta bahwa, ya ampun, umur peradaban manusia di dunia sudah beribu-ribu tahun lamanya namun sampai sekarang manusia masih belum juga sepenuhnya mampu menangani 'bencana alam' bernama hujan.
Minggu, 31 Oktober 2010
Aduuh, gue baik banget sih
Jadi ceritanya hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-22 (perasaan kemarin baru 18 dah, tau-tau udah 22 aja.. jangan2 bentar lagi 30.. hyaaa). Berhubung saya lagi cukup gembira karena sudah gajian ronde 1 beberapa hari sebelumnya, dan gajian ronde 2 di hari ultahku ini, saya bermaksud menraktir beberapa teman yang memang sudah menagih-nagih dari seminggu sebelumnya. Pilihan tempatnya ada 10, yaitu: Marche Movenpick, The Social House, Loewy, Pizza e Birra, California Pizza Kitchen, Red Tomato, Bibliotheque, The Apartment, Indochine, dan Corks & Screw.
Pertama kali sih rencananya mau di Marche aja, karena suasananya seru, meriah, ada kereta gantungnya juga yang diisi dengan meja dan kursi makan, hehe. Padahal dulu restoran ini tersembunyi dan eksklusif di gedung Hotel Melia, ga begitu rame. Tapi, setelah ganti manajemen dan pindah ke Plaza Senayan, perasaan semua kalangan jadi punya akses ke situ, dan hasilnya jadi rame membludak, dan jadi banyak orang-orang norak yang menyerbu restoran ini, termasuk para ababil, yang sepertinya begitu bangga karena mendatangi restoran ini dan juga beranggapan bahwa restoran ini baru. Di Marche yang baru, steaknya masih enak, cuma jadi jauh lebih mahal dan pelit!! Swiss Chocolate-nya yang tadinya sangat enak itu, jadi beda. Ga enak... (tapi gw berhasil menemukan minuman coklat serupa sih, tapi di Multimart di Manado, heu) Berhubung saya udah pernah beberapa kali ke Marche, baik yang lama maupun yang baru, saya mencoret restoran ini dari daftar.
Pilihan kedua, Pizza e Birra. Tempatnya sih sepertinya mengasyikkan; berlangit-langit tinggi dengan atap dan dinding yang transparan karena terbuat dari kaca. Dan restoran ini, yang di Kuningan, letaknya di luar, rada deket jalan, dan bukan di dalam mal. Mungkin seru juga sore-sore makan di sini sambil diterpa cahaya matahari sore, namun karena rencana makannya bakalan malam, jadi restoran ini pun dicoret dari daftar.
Pilihan ketiga, The Social House. Kabarnya tempat ini merupakan tempat hang terpopuler para kaum hip (maksudnya apa pun saya tidak tau) dan sosialita Jakarta, juga para ekspatriat. Pengen sih nyobain, cuma begitu baca review para customernya yang pas masuk diplototin dari kaki sampe kepala (untuk mengecek kaum kelas apakah dia), dan juga pilihan menu dan suasananya yang biasa, jadi sepertinya restoran ini tidak begitu istimewa untuk dipakai merayakan ulang tahun.
Pilihan keempat, Loewy. Namanya rada-rada sok classy deh, haha. Makanya para sosialita, ekspatriat, dan lagi-lagi hip, menyukai tempat ini. Namun menurut review, katanya tempat ini rada bermasalah. Sangat ramai dan hingar-bingar di malam minggu, sehingga harus book, dan waiting listnya panjang. Saking penuhnya, tamu-tamu yang berlama-lama bahkan bisa diusir secara halus, dan makanan yang belum habis konon pernah diangkat oleh waiter tanpa permisi. Selain itu juga disebut bahwa waiter pernah salah membawa makanan lalu dikomplain oleh tamu, namun si waiter begitu sok tahu dan bersikeras bahwa dia tidak melakukan kesalahan dan tidak sedikit pun meminta maaf. Pada akhirnya disebut bahwa si waiter membawakan makanan yang benar dengan muka cemberut. Jadi sepertinya yang ini juga mesti dicoret dari daftar, ga mau ambil resiko ah..
Pilihan kelima dan keenam: California Pizza Kitchen dan Red Tomato. Banyak yang bilang pizza-nya enak, namun suasananya biasa dan casual banget sepertinya. Malah kata teman saya Red Tomato kaga halalan n toyiban, jadi kayaknya engga deh...
Pilihan ketujuh, kedelapan, kesembilan: The Apartment, Corks & Screw, Indochine. Yang 2 terakhir sepertinya mengasyikkan, tapi suasana dan temanya rada umum sih. Ga ada yang istimewa. The Apartment temanya unik, tapi karena terlalu rumahan, jadi mungkin bakal kurang mengasyikkan.
Jadi, pilihan jatuh pada Bibliotheque yang terletak di Sampoerna Strategic Square. Foto-fotonya di internet sepertinya sih mengasyikkan. Mirip perpustakaan tua yang berlangit-langit tinggi di kastil Harry Potter gitu deh. Setalah gw browse, range harganya sih sepertinya normal. 70an lah per menu, meski kabarnya ada yang sampe 200 bahkan 400ribuan. Menurut skala restoran yang saya temukan, range harga makanan di Bibliotheque setingkat dengan Tamani, berarti seharusnya murah. Beberapa sumber mengatakan restoran ini memiliki dress code yang strict. Bahkan gara-gara ini, gw sampe belanja baju lho..
Sehari sebelumnya, Novi udah teleponin restorannya dan book buat jam 6 atau 7an. Jam 4an gw dapet kabar bahwa Sita jatuh lagi. Trus gw tanyain, "Jatuh gimana? Jatuh dari motor? Dimana?" Sita pun membalas, "Di jalan, hiks... Gw ga tau nih bisa dateng atau nggak, tapi gw usahain. Ini lagi diobatin. Tapi tenang aja, gw udah nyiapin kado spesial kok"... Trus gw bales, "Waduh ada-ada aja... Perasaan jatuh mulu dah. Makanya latihan bawa motornya yang rajin. Cepet sembuh deh ya."
Jam stengah limaan gw nyamperin Novi di Plaza Semanggi. Dia yang keluar kantor jam 1 siang ternyata nyalon dulu di Rudy Hadisuwarno Plangi sembari menunggu. Dan dia merasa salah gaya rambut. Modelnya curly-curly gitu deh. Selain itu di Plaza Semanggi yang alay itu, kami sudah mengenakan pakaian lengkap yang sangat resmi. Bahkan Novi merasa ada orang lain yg menertawakan penampilannya yang sangat rapi dan resmi. Tak lama, Cinan nelpon dan nanyain, "Lo pada mau solat di mana?"
Senin, 18 Oktober 2010
One of the bad days of my life (practising English)
Last Saturday, I went to this 'rural town' to teach some students as usual. It's a little bit embarrassing to tell which town I was going, so I won't disclose it. Haha. After spending 5 hours teaching, I left the building while it was still raining outside. The rainfall was still extremely abundant but I insisted that I need to leave the town as soon as possible. Novi texted me some hours before that she had just canceled her thesis trial exam because she was busy with her work at the office (and she was making that an excuse). Apart from that, I caught one of the literally ubiquitous public vans (while struggling to walk on wet sidewalks and roads flooded with rapidly flowing deep water) and headed to the toll gate where several buses were waiting. After I got in the bus, eventually she called me and asked if I had done teaching, and it sounded like she were planning to go somewhere and wanted to be accompanied (lolz), and she already did (go). She was at Plaza Semanggi to buy an unimportant and illusive Body Shop product. While still on the phone, she asked which movie was worth-watching and whether the movie was showing there or not. So, I agreed to meet up with her there, and asked her to wait for about an hour. Besides, I wanted to try the legendary Gelare which is claimed to be the most delicious ice cream waffle in Jakarta. It usually takes some minutes for the bus to collect enough passengers before departing to Jakarta. And, a heavy traffic jam is likely to occur on the toll road in those hours, apparently caused by a silly toll gate at the intersection. After spending 45 minutes running on the highway, the bus exited and dropped some passengers. I caught a cab as soon as I got off the bus. The journey to the destination took about IDR40000 and another 20 minutes.
As promised, I made it to Plaza Semanggi on time (at least for me). We met at Gramedia and headed off to Plaza Indonesia to enjoy the waffle while listening to her stories of unfortunate experiences she had at the office. We took the unreliable Transjakarta bus and arrived some minutes later. We approached the concierge and asked them about Gelare. Unfortunately, it was temporarily closed due to renovation. So our next plan was to watch this quality-less movie "Eat Pray Love". The only reason we were choosing that movie is because we were curious to see Christine Hakim act in English, and also the Balinese culture shown in the movie. Besides, I got this IDR25000 discount voucher for buying two meals at Yoshinoya several days before. As I remember, the cinema fare at PI on weekdays should be IDR15000, and probably on weekends IDR30000 or IDR35000. But after purchasing the tickets, I was shocked to realize that the tickets cost IDR50000 each, so my voucher didn't help that much. We still had to pay IDR75000 anyway. And for such underrated movie, it was such a waste!
While waiting for the movie, we arranged 2 plans: visiting GI and Thamrin City which is claimed to be the largest batik trade center in the world. But since I still hadn't found any similar waffle store in PI even until many minutes later, we canceled the 2nd plan. Eventually we ran to GI across the street in search of a plate of waffle. But since it was a huge shopping center, we got lost and tried to ask the concierge. They recommended several stores I don't recall, and before ending their answer, they mentioned Dairy Queen. Desperately willing to eat waffle, we tried Dairy Queen. Novi approached the counter, so there was no turning back... aarggh.. I could hardly find any waffle on the menu, but there were actually several menus labeled waffle. But according to the pictures, it seemed that those were not actual waffles. I reluctantly paid IDR45000 (uugh) only to find that the waffle was fake. Actually it was just Wall's Conello or Magnum with cone, all disguised as an ice cream waffle. While I was still feeling bad, Novi, totally uncalled for, mercilessly commented on my reluctant plan to pursue study overseas, and gosh, I was freaking out, like... err... Why did she need to give inappropriate and unwanted comments on such thing in a bad timing? Since then, I remained in a bad mood for the rest of the day. The movie didn't help much either. To be honest it was a boring movie, and I was nearly sleeping when watching it. The only good things about it were the exoticness and authenticity of Italy, India, and Bali shown there. And I was wondering why the first two of the places were countries, while the last one was a province.
The next day I rehearsed with the string quartet for upcoming wedding performance, which would be on 30th Oct 2010. After finishing the practice, I went to the recently-opened Gandaria City by purposely taking a painfully slow, roundabout route (It has been years since the last time I used the route: Matraman - Dukuh Atas - Harmoni - Grogol - Daan Mogot - Kedoya - Kebon Jeruk - Pos Pengumben - Permata Hijau - Kebayoran Lama - Gandaria). Actually choosing Blok M from Dukuh Atas and continuing the travel by hiring an ojek would be much much much faster, hahaha. And to make it even worse, I had to walk like 1 or probably 2 kilometers from the nearest busway station (why do they call it 'shelter'?) to the mall I was heading to.
Unfortunately, the mall was very typical, and thus, boring!! I hate today's shopping mall design trend (although I used to love it once)! All shopping malls claimed to be luxurious, are no different. Emporium Pluit, PIM 2, Sency, Central Park, Pluit Village, Pejaten Village, and Gandaria City. It seems that they are wasting those valuable lands by building similar malls. Btw I went to Gandaria City to meet some friends and attend Korean Food Festival, which was far below my expectation. And again, even worse, they were leaving so fast. It had not even been 2 hours.
The End.
Senin, 19 Juli 2010
Puncak yang membosankan namun bisa jadi menarik tergantung bagaimana kita menyiasatinya
Tanggal 17 Juli 2010 siang kami bertiga berangkat bersama Tante Enah dari Arion naik mobil yang dikemudikan Mas Andi. Perjalanan di jalan tol Jagorawi cukup lancar. Setelah keluar tol pun untungnya jalannya masih terlihat lengang, padahal kata Novi biasanya dari situ harusnya udah mulai macet parah. Setelah sekitar 1 kilometer baru deh mulai tersendat. Sepanjang perjalanan di jalan raya Puncak, pemandangannya masih begitu-begitu aja, penuh rumah-rumah tak rapi yang sembarangan dan tak beraturan. Cafe-cafe yang modern juga hampir ga kelihatan, dan sama seperti 7 tahun yang lalu, saung-saung lesehan Sunda masih mendominasi tepian jalan (udah bosen dengan saung-saung Sunda soalnya keluarga kalo ke Gading hobinya makan di restoran lesehan Sunda melulu)... Wow, kalo diingat-ingat udah 7 tahun lho gw ga pernah ke Puncak saking ga berminatnya untuk ke sana. Di samping itu, keluarga memang udah ga bisa diajak ngapa-ngapain lagi karena memang sudah malas ngapa-ngapain dan lebih senang bersantai di rumah sambil mengurus bayi-bayi seakan tidak ada lagi hal menarik lainnya yang bisa dilakukan. Klo lagi hari libur pun, mereka udah ga terpikir untuk mengadakan rencana jalan-jalan sekeluarga ke luar kota, dan tanggal merah lebih sering dihabiskan untuk beres-beres barang di rumah, mencari barang-barang di kamar gw yang dianggap sudah ga bermanfaat untuk segera dibuang (ini yang sangat memalaskan. Lagipula rasanya kurang bermanfaat juga sengaja mencari barang-barang untuk dibuang, hasil ga ada, capek iya). Kalo pergi jalan-jalan sekeluarga di dalam kota juga paling jauh ke Kelapa Gading (dan gw tinggalnya di Pulomas :D), sampe-sampe gw norak dan tercengang pas melihat Kemang pertama kali (aduh). Jalan-jalan sekeluarga ke luar negeri pun sampe gw berumur 17 paling jauh ke Singapore. Akhirnya tahun 2006 ada kemajuan sedikit, berhasil jalan-jalan sekeluarga ke Arab buat umroh dan beberapa bulan kemudian ke Jepang dan Hongkong (sedikit iri dengan keluarga-keluarga lain yang pernah atau bahkan sering berwisata sekeluarga ke Daratan Eropa yang jauh, tapi mudah-mudahan 2011 gw bisa mewujudkan wisata keliling Eropa swadaya bersama teman-teman). Dan kalo pun berhasil pergi ke Bali atau bahkan misalnya Jepang sekalipun, keluarga gw sudah puas dengan mendekam istirahat di kamar hotel sambil ngelamun, ngerokok, dan nonton TV. Biasanya baru keluar kamar kalo ada jemputan atau kalau memang jarak ke tempat tujuannya ga begitu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki (aduh, ini sangat merugikan deh). Itulah sebabnya kadang gw sering ngautis jalan-jalan sendirian, sayang kan kalau umur dan kaki ini ga dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bisa-bisa 20 tahun lagi gw ga bisa jalan-jalan lagi, entah karena udah tua atau karena udah ga ada minat lagi, seperti halnya keluarga gw :D
Ok back to topic, setelah perjalanan 2 jam lebih yang mirip wahana turbulent dan agak membuat mual, akhirnya sampe juga di gerbang Kota Bunga. Perjalanan mobil dari gerbang Kota Bunga ke villanya Novi yang terletak di paling pojok, melewati kolam renang yang dimaksud. Tapi kok kolam renangnya penuh dengan anak-anak kecil ya? Dan cafe di tepi kolam yang dijanjikan Novi kok seperti itu sih? Sama sekali ga seperti yang dibayangkan. Duh... padahal gw membayangkan cafenya yang berpayung-payung itu terletak di atas semacam dermaga kayu atau batu alam yang agak menjorok di atas kolam, dengan para pengunjung cafe yang menikmati santapan dan minuman sambil bercengkerama di bawah payung-payung meja sambil memancarkan senyum yang tulus dengan bahagia. Dan akhirnya Sita yang tadinya sudah sangat bersemangat menyiapkan bikini-bertali terbaiknya langsung merasa ilfil dan membatalkan niatnya untuk berenang. Katanya, ntar bisa-bisa ibu-ibu yang berenang di sana pada komentar "atapilo" atau "masa olo" dan anak-anaknya pada ribut minta dibelikan bikini yang semacam itu, atau bahkan mungkin pada mengerumuni dan menarik baju renangnya sampai kedodoran.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 lewat. Kami memutuskan untuk ke villa. Aduh, tapi gw berfirasat, kayaknya nanti kalo udah sampe villa, bakalan pada kecapean dan jadi males pergi ke mana-mana. Dan bener aja lho, begitu sampe langsung pada males ngapa-ngapain, tapi meski begitu sebelum hari gelap, kami sempat melaksanakan photo session produk Online Boutique-nya Sita di jalan menanjak dekat villa yang bernaungkan pohon-pohon cemara. Photo session sempat terhambat oleh beberapa sepeda motor yang lewat beberapa kali dan juga anak-anak dari kampung sekitar yang kebetulan berjalan melintas (gaunnya rada kebesaran jadi sering melorot). Kami pun kembali ke villa menjelang magrib, dan tiba-tiba hujan deras turun memperkeruh keadaan dan menyurutkan niat orang-orang untuk bepergian. Aduh ini mah sama aja seperti wisata bareng keluarga gw... Hiks. Tapi untunglah sekitar pukul 7 malam, hujan agak mereda. Kami pun berangkat naik mobil menempuh jalan-jalan perumahan yang gelap dan membingungkan. Tujuan pertama kami adalah pasar malam yang masih terletak di dalam komplek Kota Bunga, yang kabarnya begitu ramai, hidup, meriah, dan semarak dengan pesta kembang api dan stand-stand kuliner gorengan atau pangganan. Namun begitu sampai di lokasi yang dimaksud, ternyata beda jauh dengan bayangan gw. Itu hanya tenda yang panjangnya bahkan ga nyampe 10 meter, yang bagian dalamnya diterangi lampu neon putih (bukan kuning jingga apalagi warna-warni!), yang hanya menjual aneka pakaian, tas, dan aksesoris standar yang membosankan. Ga ada stand makanan gorengan apalagi panggangan. Dan bahkan deretan tendanya hanya terletak di sisi sebelah kiri jalan. Jauh lebih meriah dan semarak pasar kaget deket rumah gw dah perasaan, yang rutin diadakan tiap hari Minggu :(
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi tempat-tempat di luar komplek Kota Bunga. Novi sang pemilik villa bahkan ga inget jalan keluar sama sekali, terutama di waktu gelap, sehingga kami tersasar hampir 1 jam di komplek villa yang jalannya membingungkan seperti labirin. Tapi setelah tersasar akhirnya kami berhasil juga menemukan jalan keluar (kayaknya mobil kami sudah menjelajah tiap sudut komplek deh, karena instruksi dan navigasi dari Novi menyebabkan mobil kami menyusuri tiap cabang jalan satu per satu sih :D).
Setelah bebas, kami langsung melesat ke factory outlet Brasco yang terkenal itu. Duh di sini lama banget deh. Ada kali 2 jam di sini. Novi begitu gencar dan sibuk memilih-milih baju yang akan dikenakannya untuk ngantor dan meminta pendapat gw soal baju yang dipilihnya (perasaan belanja baju kerja mulu dah). Aduh gw jadi rada pesimis, ngafenya jadi ga ya? Jangan-jangan setelah pada puas belanja, mereka jadi ngantuk dan males pergi kemana-mana lagi, dan memaksa untuk pulang ke villa aja. Tapi untungnya enggak sih. Usai dari Brasco, kami mencari-cari cafe yang sesuai dengan kriteria gw di sekitaran Puncak Pass. Akhirnya nemu juga yang mendekati kriteria, namanya Restoran Bumi Nini, cabang Restoran Bumi Aki (daaaaang...). Meski berpayung-payung outdoor, lantai di teras cafe ini bukan dari batu alam, dan tidak ada air mancur yang menghiasi. Yang ada hanya teko-teko raksasa di atas tembok teras yang ga begitu jelas fungsinya. Tapi suasananya lumayan hidup dengan adanya beberapa wisatawan Eropa, entah Scandinavia, Iceland, atau Eropa Tengah, yang berpesta dan bersukaria dengan liberal di meja sebelah. Dan selain itu, di sini ada Wi-Fi yang bisa diakses tanpa username dan password lho... lumayan lah buat update status, ngikutin gaya hidup orang-orang jaman sekarang (labil deh :D)



Setelah puas ngafe, kami balik ke villa dan tidur. Tapi sebelum tidur, gw ngelanjutin baca novel "The Golden Road: Hari-hari Bahagia" yang merupakan sekuel dari "The Story Girl", karya Lucy M. Montgomery yang terkenal dengan karya legendarisnya yang berjudul "Anne of Green Gables" itu loh.. Lumayanlah dapet 3 bab.
Besoknya kami semua mengunjungi "Little Venice". Tapi melihat bagian luarnya gw udah bisa nebak sih, pasti tipe-tipe tempat wisata yang kelewat artifisial gitu deh... Yah ga jauh beda dengan ruko-ruko MOI di Kelapa Gading gitu deh, yang dibangun dengan maksud mengikuti gaya bangunan Eropa, namun gagal karena kurang kompleksnya ukiran dan ornamen pada dinding bangunannya, di samping materialnya yang terbuat dari semen yang dicat berwarna-warni secara sembarangan sehingga menyebabkannya lebih terlihat seperti rumah-rumahan Barbie di kota mainan yang membosankan. Kami harus membeli tiket seharga 15ribu rupiah per orang untuk masuk arena Little Venice, dan untuk menyewa perahu atau sepeda air untuk mengarungi danau dan kanalnya, kami harus membayar lagi sebesar 40ribu rupiah per perahu. Perahunya muat untuk 4 orang sih.




Selesai dari sini, kami kembali ke arah Puncak Pass dan menuruni lereng gunung yang masih segar, hijau, asri, alami, dan belum terjamah manusia. Tak lupa mampir di Masjid At-Ta'Awun (Atta-Auum kalo kata Novi) sebentar, bukan buat solat, melainkan sekedar untuk berfoto-foto dan melihat-lihat aliran sungai yang airnya sejuk yang masih segar, alami, jernih, dan bersih banget, yang mengalir membelah undakan-undakan jalan setapak menanjak menuju gedung masjid. Ternyata di bagian tepi masjid juga ada jeram-jeram sungai deras yang berbatu, dan juga beberapa tingkat air terjun alami yang airnya masih jernih dan bersih, yang belum terjamah manusia. Meski begitu, sungai itu ramai dengan wisatawan domestik yang berwisata sekeluarga dan berfoto-foto dengan gembira. Kami juga ikut-ikutan berfoto sejenak. Sita seperti biasa meminta tolong pada orang lain (kali ini pada seorang mas-mas wisatawan lokal) untuk mengambil gambar kami bertiga. Dan mas-mas itu pun balas minta difoto juga oleh Sita. Dan patheticnya, ujung-ujungnya si mas itu tanpa ragu dan tanpa malu sedikitpun meminta pin BB-nya Sita. Dasar mas-mas labil. Alay. Lama-lama Indonesia makin penuh deh dengan orang-orang yang labil. Dengan maksud menolak secara halus, Sita hanya tersenyum simpul menanggapinya. Namun ternyata mas-mas labil itu menganggapnya sebagai tanda setuju dan kembali bertanya, "Jadi, berapa nomer pinnya?" Emang dasar labil.
Usai dari At-Ta'Awun, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil menuruni lereng-lereng pegunungan. Namun sialnya, belum lama mobil kami melaju, di hadapan kami tampak antrian panjang mobil-mobil labil yang berhenti total. Itu artinya kami terjebak macet selama beberapa jam, seperti halnya taksi Silverbird yang juga terjebak mengenaskan di depan kami. Dan kemacetan ini dimanfaatkan oleh beberapa waria untuk menghibur tiap mobil bergantian. Duh.
Akhirnya sekitar pukul setengah 3 sore, kami sampai juga di Taman Safari setelah menempuh perjalanan panjang. Mobil kami beberapa kali diserbu hewan-hewan liar yang menodai jendela mobil dengan air liur mereka. Orang-orang di kendaraan-kendaraan lainnya tampak sangat menikmati memberi binatang-binatang itu makan, namun kami ini kan bukan jenis orang-orang yang "baik hati dan tidak sombong", jadi kami lebih sering mengacuhkan para binatang itu.
Di area hewan ini, Novi sempat bertanya apakah pawang-pawang binatang yang menjaga tiap section itu bekerja seterusnya tiap hari, mengawasi binatang tanpa istirahat. Dan gw menjawab seperti biasa, "Iya dong, kan untuk itu mereka dibayar... Oh, salah ya gue?"
Usai dari area hewan, kami sampai di amusement park-nya. Sangat ramai dengan para wisatawan domestik yang haus akan hiburan, tapi ada juga sih beberapa wisatawan Eropa-nya pas kami mengantri untuk menonton Wild West Cowboy Show. Sebagian besar wanita asingnya mengenakan celana pendek yang akan menyebabkan penduduk lokal berkata "atapilo". Dan saat mengantri dan menunggu pintu dibuka, mereka senang bergoyang saat mendengar alunan musik country ber-banjo dan ber-fiddle yang diputar untuk menguatkan suasana Wild West. Mungkin ingat kampung sendiri kali ye. Dan beberapa wisatawan lokal juga nampaknya ikut-ikutan bergoyang untuk menghibur diri, salah satunya adalah ibu-ibu yang bergoyang tanpa ekspresi namun khusyuk, itung-itung sekalian nidurin bayinya yang lagi digendong.
Pintu pun dibuka dan kami semua menyerbu tempat-tempat duduk yang strategis. Setting panggungnya lumayan. Lantainya berpasir. Shownya juga cukup dramatis, mengharukan, dan menghibur. Memang sih dialog dubbingnya agak kurang jelas dan jalan ceritanya standar, namun banyaknya adegan yang melibatkan acting para binatang yang berhamburan seperti ayam-ayam, burung-burung merpati, tikus, kucing, anjing, dan kambing benar-benar membuat adegan kekacauan di Cowboy Town terasa nyata. Beberapa kali para penjahat memasuki kota dengan menunggangi kuda dengan derap langkah yang dramatis, sambil menembak-nembak ke udara menggunakan senapan asli yang berapi dan meletup keras. Terkadang darah memercik dari tubuh korban yang terkena tembakan peluru. Pemuda-pemuda suku Indian juga memanah dengan busur mereka. Dan yang cukup dahsyat adalah adegan peledakan rumah dengan bahan peledak beneran. Panas dari ledakan besar dan massive itu benar-benar bisa dirasakan penonton. Tak jarang, ledakan mengakibatkan rumah-rumah hancur berkeping-keping. Beberapa kali sebagian tokoh harus terjatuh berdebam ke level tanah dari atap rumah dengan ketinggian setidaknya 10 meter. Seorang tokoh wanita Indian dan tokoh pria juga harus tercebur dan merasakan dinginnya air yang luar biasa. Dan penonton juga tak jarang harus ikut mengalami dampak dari adegan yang berlangsung, seperti misalnya dilempari tikus dan juga kebasahan karena cipratan air. Namun dari keseluruhan show ini, yang paling menimbulkan respect adalah kesungguhan, ketulusan, dan penghayatan para pemainnya dalam memainkan peran mereka. Bayangkan, mereka harus memainkan lakon dengan jalan cerita yang sama setiap harinya, dan bahkan di akhir pekan dan hari libur nasional pun mereka harus bermain dalam show itu dua kali sehari, namun mereka tetap menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh sukacita. Aduh, berarti mereka kapan liburnya ya? Dan menurut Novi, mereka juga bukan sembarang orang yang dicomot dari desa setempat, melainkan mahasiswa jurusan seni pertunjukan dari salah satu universitas negeri ternama di negeri ini. Semoga saja mereka selalu dirahmati, diberkahi, diganjar dengan bayaran yang layak, dan tak lupa diberikan waktu libur yang cukup :)
Selesai menonton show, kami kembali naik mobil untuk pulang ke Jakarta dan juga berencana mampir di sebuah rumah makan sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Kemacetan yang luar biasa kembali membuat perjalanan terasa lengkap. Apalagi tiba-tiba Novi ingin buang air besar dan memohon untuk sesegera mungkin mampir di tempat makan terdekat. Ketika melintas di dekat restoran Pizza Hut, mobil sudah berbelok dan hampir masuk ke area parkir, dan Novi terlihat sedikit lega karena bisa mampir ke toilet, namun tiba-tiba Tante Enah berkata, "Ngapain di Pizza Hut? Kan cuma pizza doang makanannya. Ntar aja di depan, agak jauhan, masih banyak saung-saung lesehan Sunda." Dan mobil pun batal berbelok, melewati Pizza Hut yang indah itu, sementara Novi makin menderita menahan buang air besar yang katanya sudah di ujung tanduk. Arus kendaraan kembali tersendat selama beberapa puluh menit. Ketika melintas di dekat pom bensin, mobil sudah akan berbelok, namun melihat antrian yang begitu panjang di toiletnya, mobil batal berbelok, dan kembali meneruskan perjalanan, sehingga Novi dengan putus asa berkata, "Yaaah, keluar deh..."
Beberapa menit kemudian, kami menemukan rumah makan padang dan mampir untuk mengisi perut, sedangkan Novi langsung melesat secepat kilat ke toilet untuk membuang isi perut.
Setelah puas, kami naik mobil lagi dan akhirnya sampai juga di jalan tol Jagorawi yang terlihat penuh harapan, begitu indah dan berkilau. Memang dasar kita anak kota ya, kaga tahan berlama-lama di kampung :D
Akhirnya kami semua memang sampai di Jakarta dengan selamat, dan baik Sita maupun Novi harus kembali ke alam nyata karena besoknya hari Senin. Sita ada meeting di tempat kerja setiap hari Senin, dan Novi harus kembali menghadapi rekan-rekan kerjanya yang hobi meledek dan menyindir "Iya dong, kan memang untuk itu kita dibayar. Oh salah ya gue?" ketika bertanya apakah tugas yang diamanatkan kepadanya harus diselesaikan hari itu juga; dan "Oh, berarti kamu itu baik hati dan tidak sombong ya?" hanya karena menjalankan perintah atasan dengan sukarela dan menolong rekan kerja lain tanpa diminta.
TAMAT