Senin, 06 Februari 2012

Georgia ~The Beautiful Land of Kartvelians~ (Part 1 of 2)

Georgia (nama resmi: Sakartvelo) merupakan negara pecahan Uni Soviet yang secara geografis berbatasan langsung dengan negara Turki. Negara ini terkenal dengan reputasinya sebagai negara dengan situasi politik yang tidak stabil bahkan sampai sekarang. Perang terakhir meletus pada tahun 2008, melibatkan Georgia di satu pihak dan Rusia beserta daerah separatis Georgia yaitu Ossetia Selatan dan Abkhazia di pihak lain (lihat film 5 Days of War :P). Di samping perang, situasi politik di Georgia juga cukup sering diwarnai aksi protes masal yang tak jarang berakhir anarkis menjadi kerusuhan. Peristiwa-peristiwa penting yang mewarnai linimasa Georgia pada era setelah kemerdekaannya antara lain adalah Perang Ossetia, Revolusi Mawar (2003), Revolusi Mawar Kedua (2004), Perang Georgia-Rusia (2008), dan demonstrasi anti-pemerintah (2009 dan 2011).

Kebudayaan bangsa Georgia tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya yang panjang dan dipenuhi penaklukan oleh kekuasaan bangsa lain (ekspansi) seperti Kekaisaran Romawi, Arab, Mongol, Ottoman, Persia, dan terakhir Rusia (Uni Soviet). Kebudayaan bangsa lain sedikit banyak telah memberi pengaruh pada budaya Georgia. Salah satu dari dua makanan pokok Georgia, yaitu bakpau daging yang disebut Khinkali (makanan pokoknya satunya lagi adalah roti keju bernama Khachapuri), diperkirakan berasal dari bangsa Mongol yang sempat menginvasi kawasan Kaukasus. Keanekaragaman makanan di Georgia juga dipengaruhi bangsa Ottoman, Timur Tengah, dan Rusia. Selain makanan, bahasa Rusia sempat menjadi bahasa utama di Georgia dan negara-negara Kaukasus lainnya. Pengaruh arsitektur Soviet yang kental bisa terlihat pada tata kota dan bentuk-bentuk bangunan di kota-kota di Georgia.

Cara cepat menuju negara Georgia dari Istanbul adalah dengan naik pesawat maskapai biaya-rendah Pegasus Airlines dari bandara nomor dua di Istanbul, Sabiha Gokcen Airport, ke kota Tbilisi di Georgia. Tiket bisa dibeli online dengan mudah dari Jakarta melalui website maskapai tersebut. Jadwal penerbangan yang tersedia tergolong kurang nyaman, yaitu pukul 11 malam. Penerbangan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, dan terdapat perbedaan waktu 2 jam antara Turki dengan Georgia, sehingga pesawat mendarat di kota Tbilisi sekitar pukul 3 pagi.

Saya merupakan satu-satunya orang Asia (yang berarti satu-satunya orang Indonesia) yang berada di ruang tunggu bandara saat itu. Para penumpang pesawat yang menuju Tbilisi adalah orang Georgia, sedikit orang Turki, dan sedikit orang Rusia. Mereka berbicara dalam bahasa yang sangat asing.

Dari pengalaman saya, orang-orang Georgia sepertinya agak kurang civilized dibandingkan dengan orang-orang kelas menengah ke atas Indonesia. Ngantri masuk pesawat aja ribet, ga sabaran, dan seperti kurang mengerti aturan (perasaan ya). Kadang suka sambil teriak dan ngomel ke petugas hanya karena hal kecil. Di dalam pesawat, mereka ga kalah ribet dibanding sebelum naik pesawat, terutama urusan barang bawaan di kabin. Mereka bawa barang kabin banyak-banyak banget, dan barang-barang mereka sangat besar-besar dan (sepertinya) berat-berat. Koper besar yang hampir ga muat di kabin, kardus-kardus, dan kantong plastik besar berisi belanjaan entah apa. Satu orang membawa 2 bahkan 3 tentengan. Walhasil, tempat barang bawaan di kabin penuh oleh barang-barang mereka. Ketika beberapa penumpang terakhir masuk ke pesawat, mereka bingung mau naro barang di mana, dan malangnya mereka kebagian duduk di kursi jendela darurat, sehingga mereka ga boleh naro barang di depan kaki mereka. Lalu terjadilah adu mulut yang lumayan lama antara penumpang yang malang itu dengan pramugari yang berusaha sabar dan tenang. Sampai pesawat hampir lepas landas, penumpang di sebelah saya yang merupakan orang Rusia masih belum berhenti menggunakan telepon genggam untuk berbicara dengan entah saudara atau rekannya; sepertinya mengenai pesawatnya nyampe jam berapa dan harus dijemput jam berapa. Penumpang lain di samping si orang Rusia itu (sepertinya bukan orang Georgia maupun Rusia, karena ketika ditanya oleh si orang Rusia itu, dia hanya membalas datar, "Sorry I don't speak your language") panik dan mengingatkan si orang Rusia itu dengan ketus untuk mematikan ponselnya. Namun waktu saya perhatikan, sepertinya telepon genggamnya belum benar-benar mati deh. Duh.

Selama penerbangan saya berusaha untuk tidur (karena kapan lagi saya bisa tidur). Pukul 3 pagi, pesawat berhasil mendarat di bandara Tbilisi. Uniknya seluruh penumpang serentak bertepuk tangan dengan lega dan riang saat roda pesawat berhasil menyentuh landasan dengan aman (padahal perasaan biasa aja deh mendaratnya). Mungkin itu bagian budaya Georgia kali ya. Turun pesawat, ga pake garbarata, melainkan harus naik bis ke gedung terminal.

Saya memisahkan diri dari rombongan penumpang dan menghampiri satu-satunya konter penukaran uang (bank) yang buka di pagi buta itu. Ternyata beli visa on arrival di situ juga, jadi saya nuker uang dari USD ke Georgian Lari, sekalian 50 Lari mereka ambil untuk biaya visa. Oh ya sebelum berangkat ke Turki-Georgia-Azerbaijan, saya sudah mencari informasi mengenai bisa atau tidaknya warga negara Indonesia mengunjungi Georgia dengan visa on arrival. Menurut sebagian besar sumber sih bisa. Namun ada juga sebagian kecil sumber yang menyatakan bahwa orang Indonesia harus meng-apply visa ke kedutaan Georgia terdekat dari negaranya (yang berarti kedutaan Georgia di Jepang.. sangat tidak feasible). Tapi untuk amannya sih, saya isi semacam form aplikasi visa online (E-Visa) di website Kementerian Dalam Negeri Georgia (anehnya di website Kementerian LUAR Negeri Georgia malah nggak ada fasilitas semacam ini, dan setelah berbagai daya dan usaha yang saya lakukan, akhirnya saya berhasil menemukan online form E-Visa itu). Isi formnya secara lengkap, dan di kolom "Full name, address and phone number of the inviting institution or person", isi aja data contact person dari hotel atau hostel yang kita book untuk nginep Georgia. Saya nginepnya di hostel SkadaVeli (book dari hostelworld.com), dan kebetulan pemiliknya ramah dan welcome, dan menghubungi saya secara personal via email. Sekalian aja waktu itu saya bales dan tanya mengenai visa, kartu seluler, dan juga minta izin untuk menulis data dia di formulir visa itu. Setelah menekan tombol submit, akan muncul halaman akhir yang berisi nomor aplikasi beserta barcode. Sebenernya masih bisa dilanjutin sih ke halaman pembayaran visa, namun takutnya malah bermasalah, jadi saya tidak melanjutkan. Segera simpan dan print halaman yang berisi barcode itu supaya bisa ditunjukkan saat mengantri di pemeriksaan imigrasi di bandara Tbilisi.

Setelah itu saya kembali mengantri di pemeriksaan Imigrasi. Agak deg-degan sih. Gimana kalo ternyata orang Indonesia gak bisa masuk menggunakan Visa on Arrival? Gimana kalo entry saya ditolak? Gimana kalo saya harus dideportasi? Kalo di-deportasinya balik lagi ke Turki sih masih mending, saya masih bisa lanjutin wisata di Turki dan melanjutkan wisata ke Azerbaijan yang visanya sudah saya pegang. Tapi kalo dideportasi ke Indonesia, tamatlah :D Tapi kayaknya sih ga mungkin, karena deportasi itu kan proses yang merepotkan dan memakan banyak biaya, apalagi untuk negara Georgia yang perekonomiannya masih di bawah Indonesia. Sambil mengunyah permen karet, petugas yang terlihat agak judes dan cuek itu memeriksa paspor saya dan dokumen-dokumen saya lumayan lama. Dia bahkan menelpon temannya dari divisi lain dan bertanya mengenai perlakuan apa yang harus diberikan kepada warga negara Indonesia (sepertinya, soalnya kan jarang ada orang Indonesia masuk Georgia, apalagi untuk tujuan berwisata), sementara antrian di belakang saya (yang sebagian besarnya terdiri dari orang lokal) mulai menjadi panjang. Akhirnya dia memberi saya formulir visa lagi, dan menyuruh saya mengisi formulir itu (yang persis sama dengan formulir online yang pernah saya isi sebelum berangkat!) kemudian mengantri kembali. Cepat-cepat saya isi formulir itu di meja di belakang antrian, kemudian cepat-cepat mengantri lagi.

Akhirnya saya memang berhasil lolos dari pemeriksaan Imigrasi. Rasanya sangat melegakan, sekaligus membanggakan. Cihuy! I'm in Georgia! :D Setelah mengambil koper dari baggage claim, saya membeli kartu telepon seluler dari kios suvenir (setelah bertanya sana sini) dan menukar uang lagi (takut kurang). Menggunakan nomor Georgia yang baru saya beli, saya mengirim SMS kepada Lasha dan Giorgi, 2 orang warga lokal Tbilisi yang saya temukan di couchsurfing.org, untuk mengabarkan bahwa saya telah tiba di Tbilisi. Lalu karena haus, saya juga membeli air mineral yang bersoda dan bergas dari vending machine (sebagian besar air mineral di Georgia bersoda dan bergas). Saya juga menghampiri Tourist Information Center dan meminta peta Tbilisi (meskipun sudah punya). Waktu itu masih pukul 4 pagi, sementara menurut informasi yang saya dapat dari Airport Information Center, kereta dari bandara menuju kota baru bertolak pukul 6 pagi. Setelah menunggu sampai sekitar pukul 5.30, saya mencoba keluar dari gedung terminal namun malah dihampiri para supir taksi yang sangat memaksa. Lalu saya melarikan diri ke arah stasiun kereta bandara yang letaknya beberapa puluh meter dari terminal, namun ternyata tiap mobil taksi yang melintas dekat saya selalu berhenti dan memaksa saya untuk naik taksi. Stasiun kereta tampak belum buka, sehingga saya bingung harus berbuat apa. Saya menelpon Irakli, contact person hostel SkadaVeli, dan menurutnya saya harus menunggu sampai pukul 9 pagi agar bisa naik bis menuju pusat kota, lagipula cek in hostel baru bisa dilakukan paling cepat pukul 10 pagi. Akhirnya saya ke gedung terminal dan duduk lagi. Awalnya saya duduk di luar, namun lama-kelamaan saya tidak tahan dengan dinginnya udara. Saya masuk kembali ke dalam gedung terminal dan tidur di bangku, meski sesekali terbangun. Saat terbangun pukul 8 pagi, matahari belum juga terbit. Saya diacuhkan oleh seorang Georgia ketika bertanya kapan matahari terbit. Dia hanya menggeleng tak mengerti dan tak peduli lalu pergi :( Makanya belajar bahasa Inggris dong Mas. Kemudian saya memutuskan untuk keluar karena sudah bosan, lagipula saya melihat sedikit semburat cahaya matahari. Di luar gedung terminal, saya memang melihat beberapa bis datang dan pergi, namun saya ragu karena tidak mengerti bagaimana cara membayar bis dan bagaimana cara turun dari bis. Akhirnya karena putus asa, saya memutuskan menerima tawaran supir taksi. Dia bilang harganya 25 Lari, namun karena saya menolak, dia bilang 20. Waktu saya bilang "Main Train Station", dia hanya mengangguk dengan gembira (karena berhasil mendapatkan penumpang).

Matahari mulai terbit dan udara dipenuhi kabut yang sangat tebal. Suhu udara saat itu turun drastis dan sepertinya naik taksi merupakan pilihan yang paling nyaman, terlebih bagi turis Indonesia yang manja seperti saya. Perjalanan taksi membawa saya menempuh jalan yang melewati lahan, rumah-rumah, dan gedung-gedung kumuh yang diselubungi kabut tebal. Semuanya tampak sangat surreal. Dari pemandangan ini mungkin bisa disimpulkan bahwa sesuai reputasinya, negara ini sepertinya memang negara yang miskin. Sebelum memasuki gerbang kota, taksi berhenti sejenak untuk isi bensin, lalu jalan lagi, lalu berhenti lagi di tepi jalan. Kali ini si Bapak supir taksi melakukan panggilan telepon menggunakan HP-nya, ngobrol bahasa Georgia sejenak, lalu itu telepon disodorin gitu aja ke saya. Pas saya coba ngomong, ternyata di sana ada suara perempuan dan alhamdulillah, dia ngomong bahasa Inggris yang bagus, "What can I do for you?" Awalnya agak bingung mau ngomong apa dan maksudnya gimana, dan gw malah bilang, "Uhm, the taxi driver handed me his cell phone, and.."

"The taxi driver is my father," katanya menjelaskan. Intinya dia mau menerjemahkan perkataan saya dan menyampaikan ke ayahnya mengenai ke mana saya hendak pergi (duh kalo gak ngerti gitu kenapa tadi ngangguk-ngangguk aja). Saya bilang bahwa saya mau ke stasiun kereta utama Tbilisi (Vagzlis Moedani) sekedar untuk beli tiket kereta ke Baku, Azerbaijan, kemudian melanjutkan naik metro subway ke hostel saya. Setelah semuanya jelas, telepon saya kembalikan ke si Bapak supir taksi dan si Bapak supir taksi melanjutkan berbincang sejenak dengan anaknya dalam bahasa Georgia. Tak lama kemudian, taksi kembali bergerak melewati jalan-jalan di Tbilisi. Pemandangan Tbilisi lumayan berappeal tinggi (meski sedikit suram sih karena udara masih berkabut). Di sebelah kiri saya terdapat lembah dan sungai Mtkvari (nama lain: Kura / Cyrus) dan lereng bukit yang dipenuhi pemukiman dan bangunan-bangunan kuno atau klasik atau entah Soviet (Stalinist) di seberangnya. Saya juga melewati kolong sebuah viaduct yang terbentang di atas bukit bertebing di sebelah kanan saya.

Ketika sampai di stasiun kereta yang berarsitektur brutalis, ternyata saya kena jebak. Entah dijebak atau ada miskomunikasi sih. Jadi ketika saya ngasih 30 Lari, dia sepertinya ga ada kembalian. Dan menurutnya saya harus bayar 25 Lari. 20 yang tadi itu maksudnya 20 Euro. Kalo pake Lari ya 25. Duh gimana dong. Terus saya mengalah deh. Saya bahkan disuruh memberi 5 Lari lagi (tapi kemudian dia mengembalikan 10 Lari--pas sih jadinya). Ya sudahlah, toh abis ini saya ga bakalan naik taksi lagi. Setelah turun dari taksi, saya menyeret-nyeret koper saya di atas aspal menuju pintu utama stasiun kereta sambil menghindari pengemis-pengemis dan orang-orang yang memandang dan mengawasi saya. Begitu masuk gedung stasiun, thank God... Gedungnya bagus, bersih, dan signage-nya jelas dan dwibahasa. Pokoknya ga seperti bayangan awal yang kumuh dan suram. Tadinya saya membayangkan stasiun ini bakalan lebih jelek dari Stasiun Gambir, atau bahkan lebih jelek dari Hentian Pudu Raya yang di Kuala Lumpur, namun ternyata jauh lebih bagus dari keduanya :) Di sini bahkan ada shopping centre-nya yang menambah kesan aman.

Di lantai 2, ruangannya sih bagus dan modern, bahkan ada cafe-cafe, food court yang bersih, dan area bermain anak-anak, tapi... duh, banyak banget loket penjualan tiketnya... Ada 12 lebih. Dan di tiap loket ada antrian, eh bukan, KERUMUNAN calon penumpang. Ga begitu jelas mana loket yang khusus untuk kereta dalam negeri, mana yang untuk kereta antarnegara. Semua loketnya bertuliskan kata-kata yang ditulis dalam huruf Georgia (bisa sih baca pelan-pelan, tapi kalo lagi panik dan buru-buru ya ga bisa, hehe). Menurut buku Lonely Planet sih katanya tiket kereta ke Baku dijualnya di loket 7, tapi saya ragu juga. Kemudian saya mencoba bertanya pada 3 orang polisi yang duduk-duduk bergerombol.

Saya bertanya di loket mana saya bisa membeli tiket ke Baku, Azerbaijan. Tapi sepertinya mereka sendiri juga tidak tahu. Saya diminta menunggu, dan mereka bertanya ke sana kemari. Bahkan salah satu polisi itu menelepon ke suatu pihak menggunakan telepon umum, meski akhirnya tetap tak mendapat jawaban. Lalu dia kembali bertanya pada saya, "Sebenarnya apa yang ingin Anda ketahui mengenai kereta ke Baku Azerbaijan itu, Sir?" Lalu saya menjawab bahwa saya hanya ingin tahu loket manakah yang menjual tiket yang saya butuhkan. Lalu dia merasa lega seakan terbebas dari tugas kemudian menjawab, "Oh, kalau itu mah bisa di loket yang mana aja deh sepertinya. Kalau loketnya tidak jual, coba aja satu per satu." GYAAAAw.. Cape deh, Mas.

Akhirnya saya mencoba loket no.7, sesuai informasi yang ditulis di buku Lonely Planet. Kerumunan calon penumpang di loket ini sih gak begitu padat (cuma sekitar 4-5 calon penumpang), namun kenyataannya agak sulit untuk mencapai konter, mengingat orang Georgia ternyata tidak kenal budaya mengantri. Nyerobot sepertinya merupakan hal yang biasa di negara ini. Agar proses pembelian tiket berjalan lancar dan mudah, saya menuliskan (menggunakan huruf yang besar-besar) informasi tiket yang saya butuhkan di atas secarik kertas: #37 (ini kode kereta untuk rute Tbilisi-Baku), TBILISI - BAKU თბილისი-ბაქო (menggunakan huruf Georgia), Class SV, 28 December 2011 (dua hari dari hari ini). Oh ya sekedar untuk info, kereta dari Tbilisi ke Baku berangkat setiap hari pukul 5 sore (untuk tahun 2011-2012 sepertinya). Tapi jadwal ini bisa saja berubah bila ada kebijakan baru atau tergantung keadaan. Secarik kertas itu saya tunjukkan dengan yakin sambil menyebutkan dengan jelas tiket tujuan mana yang ingin saya beli. Si mbak-mbak petugas meminta paspor saya, dan sepertinya kesulitan mengucapkan nama saya (yang pastinya terdengar asing di telinganya). Dia bertanya, mana nama belakang, mana nama tengah, mana nama depan. Kemudian saya berusaha menjelaskan, namun ujung-ujungnya dia menyerah dan menyuruh saya pindah ke loket no.12. Duh. Setelah berhasil mencapai loket yang dimaksud, saya mengulangi yang saya lakukan di loket 7 tadi. Mbak-mbak yang ini nampaknya lebih berpengalaman. Dia dapat dengan mudah mengucapkan nama saya. Setelah membayar ongkos 107,26 Lari (harga tiket kelas 1), saya menerima tiket yang bertuliskan huruf Cyrillic. Nama penumpang yang tercantum di tiket juga harus dituliskan dalam huruf Cyrillic. Nama saya ditulis: Мики Ардиенур Гусин. Pantesan aja petugas di loker 7 menyerah :p Oh ya, istilah untuk tiket di ketiga negara (Turki-Georgia-Azerbaijan) adalah bilet. Cate~t, karena ini istilah yang sangat bermanfaat untuk diingat. Sebelum meninggalkan loket, saya sempatkan untuk bertanya di platform mana saya bisa naik kereta, namun ternyata si petugas juga tidak tahu dan menurutnya akan ada pengumuman mengenai itu menjelang keberangkatan.

Setelah mendapat tiket (legaaa, karena tadinya khawatir ga dapet tiket (bisa aja kan fully-booked), dan kalo ga dapet tiket, gimana saya mau melanjutkan perjalanan ke Azerbaijan??), saya keluar dari gedung stasiun berarsitektur brutalis ini dan berjalan sedikit ke arah kanan, ke gedung di sebelah stasiun. Di situ ada simbol huruf M besar, yang kemungkinan besar berarti Metro Station (Subway). Di sini saya sedikit bingung, namun saya sok tau aja. Saya menghampiri sebuah loket dengan simbol dan logo yang modern dan meminta kartu baru (saya bilangnya "new metro card"). Lupa sih harga pastinya, yang jelas pas beli kartu bisa sekalian minta diisiin value-nya (kalo habis bisa di-top up lagi, dan refundable). Tapi malangnya saya ngisi value-nya agak kebanyakan (5 Lari kalo ga salah), padahal sekali naik metro itu tarifnya flat hanya 0,5 Lari (dan menurut wikitravel.org, jika naik metro untuk yang kedua kalinya di hari yang sama, tarifnya berkurang menjadi 0,3 Lari, dan jika naik metro lagi setelah itu, tarifnya menjadi 0,2 Lari (dan tarif seterusnya di hari yang sama adalah 0,2 Lari)), dan selama di Georgia ternyata saya naik metro hanya dua kali! Kartu ini kabarnya bisa dipake juga untuk membayar ongkos naik bus (meskipun selama di Georgia saya tidak pernah bayar saat menggunakan bus :p).

Seperti di stasiun metro lainnya di seluruh dunia, kartu metro perlu di-tap di palang rintangan agar penumpang bisa masuk ke area kereta yang terletak sangat JAUH di bawah permukaan tanah. Saya turun menggunakan eskalator yang sangat panjang, tinggi, curam, dan berkecepatan tinggi. Stasiun Metro di negara-negara pecahan Uni Soviet memang kabarnya sengaja dirancang dan dibuat sangat dalam. Oh ya, di ketiga negara ini, saat menggunakan eskalator silakan minggir ke sebelah kanan jika tidak ingin berjalan (berlawanan dengan di Asia). Selain itu yang membedakan metro/tram di Turki-Georgia-Azerbaijan dengan di Asia adalah, di Turki-Georgia-Azerbaijan penumpang dapat langsung keluar ke area bebas setelah menggunakan metro (karena tarif yang flat), sementara di Asia penumpang harus melewati palang rintangan lainnya dan menge-tap kartunya agar dapat keluar. Satu lagi peringatan penting, yang sering diingatkan oleh buku petunjuk wisata, baik online maupun offline: DILARANG MEMOTRET di dalam stasiun Metro di negara-negara Kaukasus! Kamera CCTV dipasang di mana-mana untuk memantau aktivitas penumpang. Jangan tanya alasannya, dan sebaiknya patuhi saja kalau tidak mau berurusan dengan polisi. Meski begitu saya berhasil memotret diam-diam sih :D

Saya turun di stasiun Tavisuplebis Moedani თავისუფლების მოედანი (Freedom Square / Liberty Square), tepatnya stasiun ketiga dari stasiun metro awal (stasiun pertama yang disinggahi kereta bernama Marjanishvili, stasiun kedua bernama Rustaveli). Oh ya, FYI, Marjanishvili itu tulisannya: მარჯანიშვილი dan Rustaveli tulisannya: რუსთაველი. Stasiun Tavisuplebis ini letaknya di ujung selatan jalan Rustaveli (Rustavelis Gamziri), jalan utama terbesar di Tbilisi.

Dari situ saya berjalan ke arah hostel saya berdasarkan peta. Saya berjalan melintasi sebuah square yang paling luas dan terkenal di Tbilisi yang terletak tak jauh dari stasiun metro, yaitu Freedom Square / Liberty Square / Tavisuplebis Moedani. Ada beberapa jalan yang bermuara di square ini, salah satunya adalah jalan Rustaveli tadi. Sesuai petunjuk peta, saya masuk ke sebuah jalan yang agak kecil yang mengarah ke kawasan pemukiman tertua sekaligus terindah di Tbilisi: Old Tbilisi. Karakteristik utama dari kawasan ini adalah rumah dan bangunan yang memiliki balkon dari kayu yang diukir dan diwarnai. Menurut buku petunjuk wisata, hanya sebagian kecil rumah dan bangunan di kawasan ini yang masih asli (paling tua dari abad ke-5). Sebagian besar sudah dibangun kembali karena hancur saat invasi bangsa Persia tahun 1795.

Saya menyempatkan diri membeli dua buah roti Khachapuri di sebuah konter toko (belum sempat sarapan sedari tadi), kemudian melanjutkan perjalanan mencari hostel. Saya sempat salah masuk gang, karena peta yang saya miliki tidak menggambar jalan kecil yang saya masuki itu. Ternyata jalan yang harusnya saya masuki terletak hanya beberapa meter dari belokan gang yang tadi. Setelah berada di gang yang benar pun, saya masih kesulitan mencari hostel saya. Akhirnya saya menelpon Irakli lagi, dan dia bilang hostelnya memang tidak ber-signage, dan saya harus mencari rumah dengan nomor 27. Setelah berjalan hilir-mudik, ke sana kemari, saya memang berhasil menemukan rumah nomor 27, tapi rumah berbalkon yang terbuat dari kayu ini tampak kumuh dan lapuk.

Tiba-tiba ada suara dari atas. Ternyata dia Irakli, si pemilik hostel ini. Dia menyuruh saya mendorong pintu kayu yang lapuk itu kemudian naik ke lantai 2. Dengan sisa tenaga yang saya miliki, saya berhasil mendorong pintu itu kemudian mengangkat koper saya melewati tangga kayu yang lapuk dan kotor menuju lantai 2. Bahkan ternyata lantai 1-nya itu milik orang lain. Akhirnya saya dipersilakan masuk kamar setelah berbincang sedikit dengan Irakli yang ramah meski kadang nada bicaranya tak terduga :p Sebagian besar pembicaraan sih mengenai fasilitas yang tersedia di hostel itu: kamar mandi luar (satu kamar mandi untuk 3 kamar tamu!), dapur, mesin cuci, teh dan kopi gratis, dan yang paling penting, wifi. Dia juga menanyakan bagaimana penerbangan saya dan bagaimana perjalanan saya sampai berhasil menemukan hostelnya. Setelah sedikit berberes di kamar, saya langsung melahap sebagian Khachapuri kemudian terlelap.

Ketika terbangun sorenya, saya bermaksud defekesyen sejenak di WC (yang kosong) sekalian mandi. Tapi ternyata air mati! Coba... Pas keluar dari WC, saya berjumpa Irakli dan dia bilang bahwa air memang lagi mati dan hal ini jarang terjadi. Untuk itu, dia meminta maaf. Akhirnya saya berkemas semaksimal yang saya bisa kemudian berjalan-jalan di luar. Saya menjelajah kawasan Old Tbilisi ini, berjalan dari utara ke selatan, menyusuri Jalan Leselidze yang dipenuhi toko-toko, butik, restoran, rumah penduduk, dan gereja-gereja kuno yang berusia ratusan tahun. Seperti yang sudah saya sebutkan, kebanyakan rumah-rumah di sini memiliki balkon yang terbuat dari kayu, begitu juga hostel tempat saya menginap. Saya juga melewati jalan Shardeni, Bambis Rigi, dan Rkinis Rigi yang artistik dan berhiaskan cafe-cafe yang stylish, lengkap dengan payung-payung outdoor.

Setelah melewati semua jalan itu, saya tiba di sebuah area terbuka yang merupakan sebuah square yang ramai tempat beberapa jalan bertemu, baik jalan kecil maupun jalan raya. Kawasan ini merupakan lembah yang diapit oleh sungai Mtkvari yang indah, pemukiman Old Tbilisi, dan lereng bukit yang berhiaskan rumah, bangunan, dan gereja kuno yang indah (suasananya mirip Traverse Town di game Kingdom Hearts gitu deh *jadul). Menurut peta, tempat ini bernama Gorgasalis Moedani (Gorgasali Square). Di sebelah timur saya terdapat jembatan yang terbentang di atas sungai Mtkvari, menghubungkan sisi barat dan timur kota Tbilisi. Di seberang sungai juga menjulang tebing yang tinggi, yang berbatasan langsung dengan sungai. Di atas tebing yang memanjang sepanjang sisi timur sungai itu berdiri sebuah gereja kuno dengan sebuah patung ksatria berkuda di depannya. Nama gereja kuno itu adalah Gereja Metekhi, dan patung itu bernama Patung King Vakhtang. Pokoknya suasana di tempat itu benar-benar European deh. Lebih tepatnya gabungan early-modern dengan medieval :D

Saya bermaksud menemukan satu-satunya masjid yang masih tersisa di Tbilisi, yang bernama Tbilisi Mosque. Menurut peta, letaknya tidak jauh namun agak tersembunyi dari kawasan ini. Saya mulai menyusuri jalan sesuai yang digambarkan pada peta, namun saya malah nyasar. Jalan yang saya jalani semakin lama semakin menanjak curam, dan makin lama kecuramannya semakin ekstrim. Sudah jelas saya salah jalan, namun saya memutuskan untuk melanjutkan mendaki karena melihat beberapa turis yang mendaki dengan antusias hendak menuju penghujung jalan ini. Aduh, nanti gimana turunnya ya? Jalannya terlalu curam untuk didaki, apalagi dengan sepatu boots yang tidak dirancang untuk jalanan menanjak. Meski begitu akhirnya saya berhasil mencapai puncak sih, dan menemukan suatu objek wisata yang terkenal: Kompleks Benteng Narikala dengan Gereja St. Nicholas di dalam areanya.

Tak lama kemudian, Lasha menelpon *bahasa Inggrisnya terbata-bata juga :p Dia meminta maaf karena mendadak hari ini ada UTS, dan dia baru aja selesai dari kampus, dan sekarang dia udah bisa ketemuan *beda banget ya sama orang Indonesia--kalo orang Indonesia mungkin bilangnya, "Capek juga sih, kalo besok aja ketemunya gimana? Sori banget ya, gapapa kan?" Kita janjian ketemuan di sekitaran Gorgasalis Moedani tadi, dan dia bilang dia bakal nyampe sekitar 15 menit. Oke, saya pun menuruni jalan yang curam tadi dengan ekstra hati-hati sampai akhirnya tiba lagi di square terbuka yang tadi. Di situ saya menunggu sekitar 15 menit, celingak-celinguk, dan tak lama kemudian, dia muncul. Kami bersalaman, berpelukan... dan berlanjut sampai cipika-cipiki yang bunyi dan basah, yang rupanya adalah bentuk salam hangat khas Georgia *heu. Kita langsung ngobrol dengan lancar, sama sekali ga awkward, meskipun baru kenal dan belum pernah ketemuan sebelumnya. Orangnya juga enak sih, ramah, tulus, baik hati, dan sama sekali ga ada sifat angkuh, cuek, arogan, apalagi tengil. Awalnya ngobrolnya mau sambil jalan, tapi saya baru ingat deh bahwa saya belum makan siang (dan itu udah jam 4 atau jam 5 sore gitu). Mengetahui itu, dia buru-buru mengajak saya ke sebuah restoran khas Georgia yang terletak di square itu. Menurutnya saya harus mencoba makanan khas Georgia yang bernama Khinkali.

Kami memesan sepiring Khinkali. Satu porsi isinya delapan kalo ga salah. Lasha memesan Georgian wine, dan saya memesan Coca-Cola (dia sempat menyarankan Georgian wine, karena menurutnya minuman ini merupakan minuman khas Georgia). Oh ya ternyata makan Khinkali itu tidak semudah kelihatannya, apalagi bagi pemula seperti saya. Pertama kita harus menggigit salah satu sisinya untuk membuat lubang kecil, lalu menyedot dan meminum cairan di dalamnya sampai cairannya habis. Setelah itu, barulah kita boleh makan kulit beserta isinya yang berupa daging. Dagingnya bisa sapi atau babi *gyaa, tapi saya rekues jangan pake babi. Hihihi. Orang Georgia biasanya menyisakan kuncup/pucuk Khinkali dan tidak memakannya. Menurut buku petunjuk wisata, memakan Khinkali sampai ke kuncup-kuncupnya menandakan kemiskinan yang ekstrim.

Saya mencoba makan Khinkali sesuai yang dicontohkan oleh Lasha, namun ternyata saya kesulitan menghabiskan cairan di dalam Khinkali. Selain itu, agak sulit untuk memastikan apakah cairan di dalamnya benar-benar sudah habis atau belum. Jika cairan belum habis benar, cairan itu akan menetes, mengalir, bahkan meleber ke mana-mana saat khinkali dimakan--ke dagu, ke tangan, dan ke piring. Oh ya, rasa Khinkali ini sama sekali tidak aneh. Asing memang, namun lumayan familiar. Cairannya terasa seperti kaldu daging yang harum dan beraroma dedaunan herbs *mirip sup-sup Asia, mungkin seperti steamboat atau suki-sukian atau shabu-shabu di restoran Thailand. Rasa dagingnya sendiri enak, pas. Agak asin dan bermerica. Dan menurut Lasha, Khinkali sebaiknya segera dimakan karena makanan ini paling enak dimakan panas-panas.

Di sini kami berbincang mengenai banyak hal. Obrolan berkisar mengenai diri masing-masing, mengenai budaya masing-masing, dan mengenai rencana / itinerary yang akan dilakukan bersama. Rencananya setelah dari restoran ini dia akan mengajak saya ke gunung Mtatsminda, salah satu dari dua baris perbukitan/gunung yang mengapit dan melindungi kota Tbilisi. Usai makan, saya membayar dan melebihkan dari separuh dari total harga yang tertulis di bill *eh, ternyata saya tidak ditraktir :p Kemudian kami melanjutkan berjalan menuju pusat kota Tbilisi yang gemerlap dan berkilauan, melalui jalan-jalan yang bermandikan cahaya lampu penerangan dan warna lampu hiasan natal yang beraneka-warna.

Kami naik bus kecil (yang disebut marshrutka dalam bahasa Rusia) dari Tavisuplebis Moedani menuju ujung utara Jalan Rustaveli. Rencananya dari ujung Jalan Rustaveli, kami akan naik bus lainnya yang bernomor 124 untuk menuju puncak gunung Mtatsminda. Oh ya Jalan Rustaveli di malam hari ternyata sangat indah, apalagi saat itu ketika dipenuhi kerlap-kerlip lampu-lampu hiasan natal yang menawan. So European! Mirip Orchard saat natal tapi gedung-gedungnya lebih klasik dan menyiratkan romantisme Eropa gitu deh. Haha. Butik-butik brand terkenal juga tidak absen di sepanjang jalan ini, antara lain Swarovski, Cartier, Dior, Boss, dan Ermenegildo Zegna. Selain itu juga hadir toko-toko retail kelas menengah seperti Next dan Mothercare. Oh ya sebenarnya tadinya saya berencana menonton pertunjukan konser orkestra, opera, ballet, drama, atau musik dan tari tradisional di salah satu dari beberapa teater di jalan ini (Opera and Ballet Theater, Rustaveli Theater, atau Nabadi Theater (menurut jadwal di websitenya sih harusnya ada pertunjukan)), namun ternyata gedung Opera and Ballet Theater-nya lagi direnovasi... Gyaaa. Bangunan-bangunan lainnya yang cukup menyita perhatian di sepanjang jalan ini adalah gedung parlemen, gedung bioskop, Hotel Marriott, gereja Kashveti, National Gallery, dan tentunya restoran cepat saji McDonald's yang terletak di sebuah square di ujung jalan ini (Rustaveli Square, yang juga berdekatan dengan Republic Square atau dikenal dengan nama lain Rose Revolution Square).

Kami turun dari bus di sebuah tempat yang terletak beberapa ratus meter dari McDonald's. Oh ya, penumpang seharusnya membayar ongkos bus namun ternyata banyak penumpang memilih untuk tidak membayar, alias naik bus secara gratis, termasuk Lasha (dan juga saya)! Pertama, di dalam bus tidak ada konduktor atau kenek; kedua, pintu bus terletak di tengah sehingga jauh dari supir; dan ketiga, tidak ada yang mengawasi dan juga sepertinya tidak ada yang peduli. Menurut Lasha, jika memang ingin membayar, penumpang dapat menge-tap kartu metro subwaynya pada reader meskipun tidak membayar pun sebenarnya tidak masalah. Saya sendiri kurang jelas sih apakah biasanya dia pada kesehariannya membayar atau tidak. Saya rasa mungkin karena dia sedang menemani turis asing sehingga saat itu bisa dianggap sebagai special case.

Di tempat kami turun, terdapat bangunan besar berbentuk tabung yang ternyata adalah Tbilisi State Concert Hall. Di sini kami menunggu bus 124 namun ternyata bus yang dimaksud tak kunjung tiba. Kemudian kami mencoba berjalan kembali ke dekat McDonald's dan menunggu bus lagi, namun hasilnya sama saja. Akhirnya karena hari sudah cukup malam, kami memutuskan untuk mengakhiri hari ini. Lasha berjanji akan menemui saya lagi esok hari untuk mengantarkan saya ke Gunung Mtatsminda atau mungkin juga tempat-tempat lainnya. Kami naik bus lagi dan turun di Tavisuplebis Moedani. Sebelum berpisah, kami membeli air mineral, minuman ringan, dan persediaan makanan di sebuah swalayan di dekat situ yang bernama POPULI! (jadi inget lagunya 30 Seconds To Mars yang berjudul Vox Populi: This is a call to arms, gather soldiers. Time to go to war. This is a battle song, brothers and sisters. Time! To go! To war! :p) Pertemuan diakhiri dengan mengulang 'salam hangat' khas Georgia, kemudian saya kembali hostel untuk beristirahat. Eh tapi hostelnya kok gelap gulita gini ya? Ternyata listrik mati! Yang berarti wi-fi-nya juga ikutan mati. Gelap-gelapan deh di kamar. Untungnya air udah nyala sih. Saya segera tidur. Seingat saya listrik baru hidup kembali menjelang subuh, dan begitu menyadarinya saya segera memanfaatkan saat itu untuk update status via Twitter. *end of part 1

Kamis, 02 Februari 2012

Picturesque Beautiful Istanbul

Di hari kedua di Turki, saya berencana melintasi jembatan Galata yang termasyhur itu untuk mengunjungi daratan Galata di utara. Oleh karena itu, kuseberangi lagi Hippodrome itu di pagi yang dingin dan sepi. Hujan masih turun rintik-rintik dan kabut masih menyelimuti kota. Seorang penjual buku yang sedari tadi mengincar para turis yang keluar dari persembunyian menghampiri dan memaksa saya membeli barang dagangannya (buku-buku panduan wisata berjudul 'Istanbul'). Agak sulit menolak paksaan si penjual itu, karena dia mengikuti saya kemana pun saya melangkah dan baru menyerah setelah mengikuti mangsanya beberapa puluh meter.

Saya naik tram dan turun di stasiun Eminonu, stasiun terakhir sebelum tram menyeberang selat Golden Horn menuju daratan Galata di utara. Untuk mengagumi pemandangan 360 derajat yang mengagumkan dan merasakan suasana kota Istanbul yang sebenarnya, saya berjalan kaki meniti jembatan Galata menuju daratan Galata. Sesekali saya mencoba mengambil gambar dengan hati-hati, menyadari banyak orang yang, sebagian memancing dan sebagian melakukan entah apa, di sepanjang tepian jembatan. Tak lama kemudian, saya tiba di sisi lain jembatan. Di sini saya masih menimbang antara melanjutkan perjalanan dengan tram menuju Medan Taksim di utara atau mendaki bukit Galata dan memanjat menara Galata di puncaknya atau mencari stasiun funikular bawah tanah tertua di Eropa yang kabarnya terletak di dekat situ, untuk mencapai ujung terselatan dari Jalan Istiklal yang juga termasyhur. Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan naik tram dari stasiun Karakoy yang terletak persis di situ menuju stasiun tram terakhir: Kabatas, kemudian melanjutkan perjalanan dengan funikular bawah tanah modern menuju Medan Taksim. Dari Medan Taksim saya bisa berjalan kaki menjelajah Jalan Istiklal dan menelusurinya ke ujung selatannya untuk memanjat Menara Galata.

Sampe juga di Medan Taksim yang termasyhur—pusat aktivitas orang di Istanbul, baik penduduk maupun turis liberal yang gemar dengan dunia malam: clubbing, berpesta, mabuk-mabukan, dan main wanita. Medan (square) yang terletak di atas bukit ini cukup luas, dan merupakan sebuah titik pertemuan banyak jalan, baik lorong kecil maupun jalan raya. Setelah saya hitung berdasarkan peta, ada 6 jalan besar dan 6 lorong yang bermuara di medan ini. Berdasarkan peta itu juga, untuk menuju ke Jalan Istiklal yang termasyhur itu, saya harus menuju arah selatan. Kompas saya terkubur jauh di dasar tas sehingga saya merasa malas untuk mengambilnya. Lagipula sedikit mengerikan untuk mengubek-ngubek tas di tengah keramaian. Akhirnya dengan bermodalkan peta saya yang sudah luntur itu, saya mencoba mencari pangkal dari Jalan Istiklal. Namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Saya sempat masuk ke jalan yang saya kira Jalan Istiklal (abis dekorasinya bagus sih :p) lalu berjalan jauh ke dalamnya. Namun setelah cukup jauh berjalan, saya merasa kurang yakin lalu memutuskan berbelok dan menemukan jalan lainnya yang serupa. Mungkin ada kali setengah jam saya habiskan cuma untuk hilir-mudik menjelajah hanya untuk berputar-putar dan mendapati tempat yang sama lagi. Ditambah lagi, di kawasan ini sangat susah mencari petunjuk nama jalan. Akhirnya daripada membuang waktu, saya memutuskan untuk kembali lagi ke medan dan merunut kembali satu per satu jalan yang ada. Di arah yang saya yakini sebagai selatan, ada sebuah jalan raya yang cukup besar. Karena tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Jalan Istiklal, saya mencoba jalan raya itu, namun ternyata saya salah lagi. Aduh, pokoknya keadaan saat itu benar-benar membingungkan. Dan akhirnya setelah keliling-keliling selama beberapa menit, saya nyampe juga di pangkal dari Jalan Istiklal. Ternyata letaknya agak kepojok dan sangat tersembunyi.


Doner, Ayran, Whirling Dervishes, Galata Tower, Hodjanpasha, Eminonu, Egyptian Bazaar, Rustem Pasha Mosque, Museum Militer, Nisantasi, Burger King, Hostel, Sema Dance

Jumat, 06 Januari 2012

Akhirnya perjalanan itu terwujud juga ~Turki, Georgia, Azerbaijan~

Jadi, akhirnya rencana perjalanan saya terealisasikan juga. Meski baru tahap awal, bagi saya ini merupakan progres yang cukup signifikan. Untuk pertama kalinya saya berhasil menapakkan kaki di dataran Eropa setelah 23 tahun hidup. Uhm, dibilang Eropa, memang benar Eropa sih, tapi ya.. Eropa pojok gitu deh. haha. Tepatnya, Turki (ini biasa sih, bahkan ada yang bilang ini bukan Eropa), lalu ke Georgia, dan terakhir ke Azerbaijan :))

Rencana ke Eropa ini memang sudah direncanakan sejak 2 tahun lalu, namun sayangnya tidak kunjung terealisasikan. Penantian melewati bulan demi bulan terasa begitu panjang dan 2 tahun pun berlalu begitu saja. Rencana awal perjalanan saya saat dicetuskan adalah pergi beramai-ramai atau minimal berdua dengan salah seorang teman yang mengompori saya untuk jalan-jalan. Kala itu saya belum berpenghasilan, sehingga hambatan utama kala itu adalah dana. Namun, begitu dana sudah mencukupi, teman saya tiba-tiba saja kehilangan niat awalnya, sehingga muncul masalah lainnya yaitu: teman seperjalanan.

Menjelang akhir 2011, saya kebingungan karena mengetahui akan mendapat libur yang cukup panjang, yaitu dari tanggal 22 Desember sampai 3 Januari. Alangkah sayangnya jika saya menghabiskan libur itu tanpa berbuat hal apa pun yang berarti. Bahkan saya sempat memegang filosofi yang agak angkuh, yaitu uang bisa kembali, waktu dan kesempatan tidak. Kemudian mulai terbesit dalam pikiran saya, bahwa saya mungkin bisa merealisasikan sebagian dari obsesi saya untuk jalan-jalan ke Eropa. Seorang diri. Toh saya punya beberapa kenalan / teman online dari Azerbaijan, jadi ga sendiri-sendiri amat. Untuk Georgia, saya bisa cari teman lewat couchsurfing.org. Awalnya saya ragu, namun saya pun mencoba memulai persiapan dari awal, satu demi satu, sedikit demi sedikit, hingga saya sampai pada titik "there's no turning back", yaitu saat membeli tiket PP Jakarta-Istanbul yang harganya mahal. Setelah titik tersulit sudah dilewati, langkah-langkah berikutnya terasa lebih tidak berdosa, misalnya membeli tiket pesawat Istanbul - Tbilisi (Georgia), membeli tiket pesawat Baku (Azerbaijan) - Istanbul, mengurus visa Azerbaijan secara diam-diam (yang harus diurus di negara asal), dan membooking hostel untuk ketiga negara. Visa Turki bisa didapatkan on arrival, sementara visa Georgia menurut berbagai informasi juga bisa diperoleh saat kedatangan (meskipun agak gambling, soalnya jarang ada orang Indonesia ke situ, apalagi paspor saya paspor hijau Indonesia).

Langkah yang paling sulit adalah memohon restu dan izin orang tua. Orang tua merasa khawatir karena saya bepergian seorang diri. Sebenarnya saya ingin meyakinkan mereka bahwa saya punya kenalan di sana, namun saya merasa itu justru kemungkinan besar menjadi bumerang ("Siapa tuh? Ih kan ga kenal, teman dunia maya lagi. Jangan!") Orang tua saya tahu bahwa saya berobsesi untuk ke Georgia dan Azerbaijan yang masih terlibat konflik dengan negara tetangga mereka (meski sudah lumayan damai), dan tentunya orang tua melarang saya mengunjungi negara-negara tersebut. Oleh karena itu saya hanya bilang bahwa saya ke Turki.

Oke, akhirnya hari keberangkatan tiba. Saya diantar ayah saya (yang tak henti-hentinya ngedumel selama perjalanan ke bandara) dan ibu saya yang sebenarnya khawatir, namun lebih sering membela saya. Saya naik Turkish Airlines menuju Istanbul, yang jadwalnya selalu ada setiap hari. Total waktu tempuh perjalanan cukup lama. 14 jam, termasuk transit di Singapura selama 40 menit. Di pesawat saya sempat nonton film Rio (yang ternyata ga bagus-bagus amat), dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk tidur. Subuh-subuh pengen defekesyen pula. Awalnya mau ditahan aja, namun saya berpikir, ini akan sangat menyiksa. Lalu saya meyakinkan diri saya bahwa saya harus bisa mengatasi masalah dalam segala situasi, apalagi saat traveling. Ya sudah, mumpung sepi, ke WC lah. Siapkan tisu basah. Untung di lavatory ada air mengalir. Jadi ya.. Lumayan bisa bersih.

Tiba di bandara Attaturk.. agak sedikit bingung, tapi saya ga boleh bingung. Ikutin aja arus orang-orang, dan tak jauh di sebelah kiri ada counter visa. Ternyata sangat mudah deh. Tinggal kasih paspor dan saya disuruh bayar USD25, dan petugas langsung menempelkan stiker visa di paspor saya. Setelah itu tinggal mengantri untuk pengecekan paspor dan mengambil bagasi di baggage claim. Setelah mengambil barang, saya menyempatkan diri menukar 400USD ke Turkish Lira (yang sangat sulit diperoleh di Jakarta) kemudian keluar tanpa diperiksa oleh petugas bea cukai.

Dari sini saya mencoba naik metro subway menuju hostel di pusat kota. Hostel saya terletak di kawasan Sultanahmet yang termasyhur di kalangan turis :P Turun eskalator, lalu di sana ada mesin otomatis untuk memperoleh token / jeton. Masukin duitnya, tentukan mau beli berapa jeton, lalu tekan tombol accept. Oh ya, jeton ini bisa dipake untuk hampir semua moda transportasi di Istanbul. 1 jeton seharga 2 TL (Rp10.000,-), dan berlaku tarif flat. Jadi kita hanya perlu menghabiskan 2TL untuk bepergian dengan metro/tram, baik jauh maupun dekat dalam jalur yang sama. Namun demikian, butuh jeton baru lainnya apabila kita berpindah ke jalur kereta lain (interchange).

Saya naik metro dari bandara sampai stasiun Zeytinburnu. Di stasiun tersebut, saya turun dan berpindah ke jalur tram menuju kawasan Sultanahmet. Hari benar-benar masih gelap. Matahari belum lagi terbit, padahal sudah pukul 7 pagi. Selama perjalanan menuju Sultanahmet, saya melewati kawasan yang dipadati ruko, rumah, dan lorong-lorong sempit yang berbukit. Atmosfer Timur Tengah cukup terasa, meski banyak bagian dari kota lebih mirip Eropa. Saya juga melewati sebuah tembok kuno yang besar dan megah, yang sepertinya dibangun pada era Byzantium untuk membatasi kota Konstantinopel. Pemandangan serupa terus berlanjut sampai saya tiba di stasiun Sultanahmet.

Dari stasiun Sultanahmet, saya berjalan menyeret-nyeret koper saya sambil menggendong ransel (backpacker gadungan, hahaha), menyusuri trotoar dan, tak lama kemudian, sebuah square terbuka yang sangat luas. Alun-alun ini dihiasi oleh sederetan tiang batu yang bernama obelisk. Saya mengenali tempat ini sebagai Hippodrome, peninggalan era Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur), yang sempat beberapa kali disebutkan dalam Al-Quran *deskripsi religius :P Tempat ini masih sangat sepi dan matahari nampaknya baru akan terbit. Dari kejauhan di sebelah kiri saya tampak bangunan Hagia Sophia, dan di sebelah kanan saya nampak sebuah masjid besar, yang tak lain adalah Masjid Sultanahmet atau lebih dikenal dengan nama Blue Mosque.

Di sini, belum-belum saya sudah dihampiri oleh orang tak dikenal. Dia mengaku sebagai polisi turis dan ingin membantu menunjukkan arah menuju hotel ("Don't worry," katanya). Dia kemudian menanyakan nama hotel dan saya hanya menyebut nama Sultan Inn's Hostel dan menunjukkannya di peta (terpaksa, soalnya dia bersikukuh sih). Namun, dia bahkan tampak tak begitu yakin di mana letak hostel saya, namun setelah mengetahui nama jalan tempat hostel saya terletak, dia menjelaskan dan menunjuk ke arah kanan *duh itu mah saya juga tau deh Mas. Lepas dari urusan dengan orang itu, saya melanjutkan berjalan sambil menyeret koper yang menimbulkan bunyi bising (karena tanahnya dilapis pavements) sampai ke ujung Hippodrome. Dari situ saya menerka arah sesuai peta dan berjalan menuruni bukit yang curam. Tak lama akhirnya saya sampai juga di hostel.

Usai cek-in (sempat ditawari paket tur yang mahal oleh resepsionis, dan agak bingung menolaknya. Mana bahasa Inggrisnya kumur-kumur), saya tak bisa langsung masuk kamar karena saat itu baru jam 8 pagi... Matahari bahkan baru terbit 30 menit yang lalu. Dan seperti pada kebanyakan hostel maupun hotel, kamar baru bisa dimasuki pukul 12 siang. Oleh karena itu, saya ditawari untuk sarapan gratis di lantai teratas hostel terlebih dahulu (tumben hostel nyediain sarapan, hehe. Di hari kedatangan lagi :D )

Sarapannya lumayan. Menu utamanya sosis dan kentang-keju-krim. Juga tersedia beberapa jenis roti yang bisa disantap dengan butter atau keju krim. Untuk minuman, tersedia susu, air putih, teh, kopi, dan jus buah entah buah apa. Saya habiskan sekitar satu jam di sini untuk makan dan mencoba fasilitas wifi sekalian menunggu.

Usai sarapan, saya turun dan menitipkan koper agar bisa berjalan-jalan di kawasan sekitar hostel. Tujuan pertama saya adalah Masjid Sultanahmet, yang merupakan objek wisata terdekat dari hostel. Agak bingung mau masuk lewat mana, namun tak lama kemudian saya berjumpa serombongan turis yang sangat 'touristy' asal Tanah Air (so obvious :P) dan saya mengikuti mereka masuk ke masjid ini.

Ternyata interior masjid ini memang sangat indah bak lukisan. Atapnya yang berupa dome dihiasi warna-warna cerah perpaduan Ottoman dan Byzantine *sotoy. Setelah menghabiskan beberapa menit di sini, saya keluar dan mendapati sebuah stand yang dijaga oleh seseorang yang tiap beberapa detik sekali berseru, “Donation!”, meski sebenernya sumbangan untuk masjid ini nggak wajib sih. Karena merasa ribet, saya tidak memberi donasi :p

Tujuan berikutnya adalah Katedral Hagia Sophia yang tersohor dan termasyhur itu. Namun karena tidak menemukan pintu masuknya, saya kelewatan dan tahu-tahu saya sudah tiba di gerbang Istana Topkapi. Sebenarnya istana ini tidak begitu menarik minat saya, namun karena istana ini merupakan salah satu destinasi paling wajib dikunjungi di Istanbul, akhirnya saya meluangkan waktu untuk sejenak menjelajahi istana ini.

Di halaman terluar istana, tepatnya di sebelah kiri saya, ada gedung gereja bersejarah yang bernama Hagia Irini (Cathedral of St Irene), namun tak terlihat satu pun turis yang memberikan perhatian pada bangunan ini, dan memang ternyata menurut print-an panduan wisata Wikitravel yang saya bawa, bangunan ini tidak dibuka untuk umum.

Setelah melewati courtyard pertama, saya harus membeli tiket yang cukup mahal dan melalui pemeriksaan x-ray agar dapat memasuki courtyard kedua. Duh, ternyata tripod dilarang di sini, sehingga tripod saya ditahan dan saya dapat mengambilnya kembali usai ekskursi. Di courtyard kedua, terdapat beberapa ruangan yang masing-masing berupa museum yang menyimpan benda-benda berharga peninggalan Kekaisaran Ottoman. Di sini juga terdapat pintu masuk menuju Harem, yang untuk memasukinya, turis wajib membayar lagi. Bagi saya yang menarik dari courtyard kedua ini hanyalah Imperial Council, sebuah ruangan dengan interior khas Ottoman *sotoy.

Oh ya, rata-rata ruangan museum di Istanbul memiliki alur yang jelas bagi pengunjung. Pengunjung masuk ruangan pameran melalui pintu masuk yang bertuliskan giris dan keluar melalui pintu keluar yang bertuliskan cikis. Kedua kosakata bahasa Turki tersebut sangat bermanfaat untuk diingat selama berwisata di Turki dan bahkan Azerbaijan :)

Lanjut ke courtyard ketiga. Seperti halnya courtyard kedua, di sini juga terdapat beberapa ruangan pameran. Di tengah courtyard terdapat Audience Chamber yang juga dikenal sebagai Throne Room. Yang paling menarik dari courtyard ketiga ini adalah ruangan pameran benda-benda warisan Nabi Muhammad. Lafaz ayat-ayat Al-Quran diperdengarkan di ruangan ini, diiringi terjemahan ayat pada layar kaca. Awalnya saya mengira ayat-ayat Quran yang diperdengarkan di ruangan ini merupakan rekaman audio, namun setelah saya berpindah ke segmen lain dari ruangan ini, saya mendapati ada seorang qari di pojok ruangan yang memang membaca Al-Quran secara live. Kebanyakan turis asing maupun lokal tertahan di sini, tertegun mendengarkan ayat Al-Quran sambil menyimak terjemahan Inggris dan Turki-nya yang berganti-ganti di layar kaca.

Di courtyard keempat, seingat saya hanya ada sebuah teras batu yang berlatar belakang panorama spektakuler Selat Bosporus dengan daratan berbukit (semenanjung Asia) yang berhiaskan rumah-rumah dan bangunan yang indah bak lukisan. Sayangnya kala itu cuaca kurang bagus dan udara dipenuhi kabut sehingga pemandangan itu berkurang keindahannya.

Setelah puas dengan istana ini, saya kembali untuk mengambil tripod saya yang tertahan, lalu keluar kompleks istana melalui gerbang lain istana di courtyard pertama. Di sini saya melewati Museum Arkeologi, namun saya mengabaikannya karena menurut saya museum tersebut kurang tinggi prioritasnya. Gerbang samping tersebut ternyata mengantar saya ke kaki lembah dengan jalan mobil yang juga dilalui rel tram. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak toko suvenir, restoran, toko kue, dan kantor penukaran uang. Saya memutuskan mendaki trotoar dan menuju Hagia Sophia yang termasyhur.

Lagi-lagi di sini ada pemeriksaan menggunakan x-ray, dan lagi-lagi saya terpaksa menitipkan tripod yang dilarang. Oh ya kalo ga salah di sini hujan lumayan lebat deh, dan payung saya dan sebagian dari saya kebasahan. Terlepas dari semua kesulitan itu, saya memasuki bangunan ini dan menikmati kemegahan dan kesurgawian interiornya. Fitur utama katedral-masjid yang telah beralih fungsi menjadi museum ini adalah kaligrafi Arab: Allah dan Muhammad yang mengapit gambar Yesus. Menurut buku petunjuk yang saya bawa, ada baiknya mengunjungi lantai atas dari bangunan ini melalui ramp yang letaknya agak tersembunyi. Setelah menemukan ramp yang dimaksud, saya mendaki tanjakan menuju lantai atas dan mendapati pameran lukisan dan juga dinding-dinding mosaik Nasrani abad pertengahan yang sangat dilindungi. Blitz dilarang untuk digunakan saat memotret karena dapat merusak dinding mosaik tersebut. Oh ya menurut saya dibandingkan sudut-sudut lain di dalam bangunan bersejarah ini, lantai atas ini merupakan sudut terbaik untuk mengabadikan suasana bagian dalam Hagia Sophia.

Usai dari Hagia Sophia, saya memutuskan kembali ke hostel untuk beristirahat sambil menanti waktu solat Jumat. Eh tapi dalam perjalanan menuju hostel, tiba-tiba cuacanya berubah ekstrim lho. Angin kencang bertiup beriringan dengan hujan yang tipis namun lebat. Suhu mendadak turun. Kaki sudah mulai sakit dan pakaian luar saya kebasahan semua. Walhasil, saya ketiduran dan kebablasan solat Jumatnya. Uhm, kan habis menempuh perjalanan jauh, kecapean, ngantuk, dan lagi di luar hujan angin dingin, dan pakaian belum kering *alasan. Kalo ga salah, saya ketiduran sampe jam 3an deh.

Setelah istirahat sejenak di hostel, saya kembali menjelajah kota Istanbul, melewati Hippodrome (yang sepertinya akan menjadi langganan saya selama di Istanbul) dan singgah sejenak di konter kebab untuk membeli doner ayam (tavuk doner). Kemudian sembari dengan pathetic mengunyah doner yang isinya terus berjatuhan dan mengotori lantai (oh no!), saya menyusuri jalan Divan Yolu yang termasyhur ke arah Beyazit. Kali ini saya bermaksud mengunjungi Grand Bazaar (Capali Carsi) yang termasyhur. Saat itu hujan masih saja turun rintik-rintik. Namun kali ini, semakin lama hujan turun semakin lebat. Saya membuka payung saya dan bisa dibayangkan betapa repot dan susahnya keadaan saat itu. Melangkah cepat sembari membaca peta (yang luntur karena terkena air hujan), menebak arah, mencocokkan keadaan lapangan dengan peta, mencari patokan, beberapa kali menginjak genangan air, berbecek-becek ria, kebasahan, memegang payung yang seringkali berubah terbalik karena angin yang kencang, mencegah payung mengenai orang lain, memegang makanan, mengunyah makanan, menjaga kamera agar tidak terkena air hujan (dan sepertinya mustahil memotret dalam situasi seperti ini), menjaga barang bawaan dari tangan-tangan jahil, dan menghindari gangguan-gangguan dari para calo, pengganggu, penjual, dan trader/greeter cafe yang sepanjang perjalanan saya terus menyapa dan bahkan memaksa turis-turis untuk singgah di cafe mereka. Semua dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu. Duh, mulai homesick nih :(

Akhirnya karena repot, saya memutuskan untuk menyimpan peta dan mempercayakan semuanya pada naluri navigasi saya. Awalnya saya sempat salah jalan, karena saya berbelok terlalu awal, namun saya terus mencari jalan yang nantinya akan membawa saya ke tujuan. Akhirnya, meski melalui pintu samping (Nurosmaniye Gate), saya memang sampai di Grand Bazaar. Tadinya saya mengira bahwa saya dapat beristirahat dan bersantai sejenak di Grand Bazaar ini: menghangatkan badan sambil berjalan dengan santai dan aman, melirik ke kiri dan kanan, sambil memotret-motret, namun ternyata saya salah besar. Keadaan di sini malah lebih buruk: ramai, penuh sesak oleh arus-laju manusia dari bebagai arah, dan tentunya penuh dengan penjual barang dagangan yang agresif dan sepertinya memiliki radar turis. Bukan tidak mungkin di sini banyak orang bertangan jahil yang memanfaatkan situasi untuk mencopet.

Sebagai gambaran, Grand Bazaar ini memang sangat luaaaas. Ada puluhan lorong labirin yang bersimpangan satu sama lain, dan tiap lorong dipenuhi oleh kios-kios yang menampilkan aneka barang dagangan, mulai dari pernak-pernik kecil sampai permadani. Keseluruhan kompleks pasar yang sangat luas ini tertutup atap, menjadikannya sebagai pasar indoor terbesar di dunia *kalo ga salah ya.... Sangat mudah untuk tersesat di tempat ini. Mengandalkan ingatan, saya berjalan lurus menyusuri jalan/lorong selatan pasar ke arah barat sampai jalan tersebut bertemu dengan jalan utama, yang kemudian membawa saya ke gerbang utara kompleks pasar ini.

Keluar dari pasar, ternyata hujan bertambah parah dan disertai angin musim dingin yang jahat, yang bertiup melewati lorong-lorong sempit di tengah padatnya pemukiman penduduk. Payung saya hancur total dan sudah tidak berbentuk. Seluruh pakaian saya basah. Meski begitu, saya meneruskan berjalan melewati lorong ramai yang diapit pemukiman. Lorong yang bernama Uzuncarsi Caddesi tersebut membawa saya menuruni bukit dan mengarah ke laut (Golden Horn Bay). Setelah beberapa menit (sempat tersesat dan panik), akhirnya saya tiba di sebuah pelataran luas yang terletak di tepian laut, di mana tiupan angin dingin terasa semakin kencang dan jahat. Di seberang laut, samar-samar terlihat daratan semenanjung bukit Galata yang dihiasi menara Galata yang dibangun pada abad pertengahan dan dipenuhi perumahan dan bangunan-bangunan beraneka warna yang seharusnya indah bak lukisan. Di tepi pelataran tersebut terdapat masjid yang sangat besar yang bernama Yeni Camii (masjid baru). Malangnya, saya praktis tidak dapat berbuat apa-apa untuk menikmati dan mengagumi keindahan tempat ini karena badai semakin hebat dan air hujan mengguyur dengan deras sehingga mengaburkan pandangan. Dengan pasrah, saya berjalan melintas pelataran luas tersebut dengan hati-hati.

Tadinya saya berencana untuk menunggu di suatu tempat di sekitar tempat ini karena menurut jadwal, pertunjukan tarian sufi (Whirling Dervishes) dan upacara Sema khas Turki akan dimulai pukul 19.30 di suatu gedung pusat kebudayaan Turki yang letaknya tak jauh dari situ. Dan untuk menonton pertunjukan itu, saya telah membeli tiket seharga 50 Lira (250 ribu rupiah) secara online dari Jakarta tepat sebelum berangkat menuju bandara Soekarno-Hatta. Namun, keadaan yang dahsyat tersebut ditambah dengan dinginnya udara menyurutkan niat saya untuk menunggu. Saya tak tahu di mana saya dapat berlindung. Satu-satunya tempat yang dapat saya andalkan untuk berlindung hanyalah hostel yang dilengkapi dengan pemanas sehingga hangat.

Dengan penuh perjuangan saya berjalan menuju stasiun pemberhentian tram terdekat (Sirkeci). Di sini upaya saya untuk pulang terhambat karena token saya tersangkut saat dimasukkan ke lubang di pintu palang rintangan. Awalnya saya berpikir mungkin token yang saya miliki memang terlalu ringan dan tidak compatible untuk digunakan di stasiun tram. Namun dugaan saya keliru karena tak lama kemudian seorang pemuda Turki (atau entah turis) yang sepertinya juga terburu-buru hendak naik tram mengecek token saya yang tersangkut kemudian secara ajaib token saya terdorong masuk, dan ting-tong, lampu di pintu palangan rintangan berubah hijau. Kemudian tebak apa yang dia lakukan? Dia berjalan masuk dan melewati palang putar aja gitu, sehingga secara teknis, dia naik tram secara gratis, menggunakan token saya :O Memang sih dia sepertinya memang tidak sengaja dan terburu-buru. Duh. Berterima kasihlah. Setelah kejadian itu, dengan panik saya berusaha merogoh kantong dan mencari token lainnya yang tersisa, yang sangat sulit diambil karena bercampur dengan uang koin (Pelajaran penting: letakkan token dan uang logam secara terpisah!) Akhirnya saya berhasil menemukan token terakhir yang saya miliki dan memberanikan diri memasukkan token itu untuk kedua kalinya. Kali ini saya melakukannya dengan lebih yakin dan bertenaga (pelajaran penting lainnya: masukkan token dengan yakin dan bertenaga). Setelah segala daya dan upaya tersebut, saya berhasil naik tram untuk kembali ke area Sultanahmet. Bisa dipastikan seluruh penumpang tram saat itu dalam keadaan basah dan kedinginan. Lagi-lagi saya harus menyeberangi Hippodrome yang panjang dan luas itu dan menuruni lorong-lorong yang curam untuk mencapai hostel *kaki udah sakit nih. Begitu sampai di kamar, saya tidak membuang waktu lagi dan langsung tidur sejenak. Namun malang tak dapat ditolak, saya kebablasan. Begitu saya terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 19.40 dan rasanya mustahil untuk mengejar acara yang telah dimulai di gedung pertunjukan karena saya juga belum berkemas dan ditambah lagi cuaca di luar masih tidak bersahabat. Sudah tentu tiket saya hangus. Hiks. Bahkan saya tidak makan malam saat itu karena tidak tahu harus makan apa dan di mana.

Selasa, 11 Januari 2011

Bencana alam bernama Hujan

Hujan.

Apakah yang disebut dengan hujan itu? Menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia, hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Dan apa pula yang disebut presipitasi? Lagi-lagi menurut Wikipedia versi bahasa Indonesia, presipitasi (juga dikenal sebagai satu kelas dalam hidrometeor, yang merupakan fenomena atmosferik) adalah setiap produk dari kondensasi uap air di atmosfer, yang dihasilkan ketika atmosfer (yang merupakan suatu larutan gas raksasa) menjadi jenuh dan air kemudian terkondensasi dan keluar dari larutan tersebut (terpresipitasi).

Kapankah terjadinya hujan itu?

Bisa dibilang hujan cukup sering terjadi (di Indonesia). Indonesia memiliki 2 musim tiap tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Frekuensi dan curah hujan pada musim hujan cenderung lebih tinggi pada musim hujan.

Lainnya

Menurut saya, hujan merupakan suatu fenomena alam yang sangat sering terjadi, yang sudah diatur sedemikian rupa untuk memberikan manfaat dan keseimbangan bagi alam dan manusia. Hujan juga merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses siklus air. Tentunya sangat banyak manfaat bisa dirasakan manusia dengan adanya hujan, antara lain manfaat bagi tanah, tumbuhan, hutan, dan lahan pertanian. Meskipun begitu, saat ini banyak manusia cenderung merasa terganggu dengan fenomena alam ini. Hujan yang terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan bencana banjir. Cuaca buruk yang disertai hujan juga seringkali mengganggu jadwal penerbangan dan pelayaran.

Namun tulisan kali ini bukan mau membahas lebih lanjut proses terjadinya hujan ataupun dampak hujan secara ekologis maupun ekonomis, melainkan kecendrungan manusia (Indonesia) menanggapi hujan. Hujan seringkali dianggap sebagai suatu halangan untuk melakukan aktivitas, contohnya yang paling umum bepergian. Dari pengalaman saya, kebanyakan orang mengurungkan niatnya bepergian (untuk janjian ketemuan misalnya) apabila hujan turun, ga peduli mereka mau bepergian naik motor, jalan kaki, naik kendaraan umum, ataupun bahkan mobil pribadi. Bahkan sebagian ga bersabar menunggu sampe hujan berhenti dan langsung seenaknya memutuskan batal bepergian (untuk ketemuan) ("Aduh, apa gak jadi aja ya? Hujan, cuyy/jeung..."), meskipun orang itu bepergian naik mobil. Pejalan kaki meskipun misalnya bawa payung pun seringkali kalau belum berangkat, mengurungkan niat, atau klo udah terlanjur berangkat jauh, berteduh lalu menunggu sampai hujan reda. Bagi pejalan kaki mungkin alasannya ga mau kena basah, tapi bagi pengendara mobil, apa ya alasannya? Takut macetkah? Apa masih takut kebasahan juga? :p Tapi terlepas dari semua akibat dari hujan yang menghalangi orang bepergian, entah kenapa biasanya hujan membuat orang kehilangan mood duluan, atau keburu males buat pergi, meskipun sebenernya kalo diusahain sebenernya bisa aja pergi. Tadinya saya kira hanya perempuan yang seperti ini, namun ternyata laki-laki juga. Dulu waktu kuliah, pernah hujan nanggung, sedikit lebih lebat dari gerimis, tapi sama sekali bukan hujan lebat. Waktu itu jam pulang kuliah. Ketika saya bermaksud jalan kaki sambil menggunakan payung, seorang teman yang seorang laki-laki, yang biasa naik angkot, memilih untuk menunggu sambil berteduh, meski saat itu dia membawa payung. Jarak dari tempat berteduh menuju angkot hanya sekitar 20-30 meter. Terus saya bertanya, "Sampe kapan nunggunya?" dan dia berkata akan menunggu sampe hujan reda, padahal saat itu hujannya ga deres-deres amat. Akhirnya saya pergi duluan karena menurut saya bakal rugi waktu kalo nungguin sampe hujan reda. Dan seingat saya ternyata waktu itu hujan turun lebih dari 2 jam, dan waktu itu jam pulang kuliahnya jam 4an. Berarti kalau dia benar-benar menunggu sampai hujan reda, dia baru beranjak pulang jam 6an. Saya sempat berpikir, apa gak sayang waktunya kebuang sampe 2 jam, dan ga ngapa-ngapain selama itu melainkan cuma berdiri nunggu doang. Dan dia beralasan "Apa boleh buat, hujan sih". Hal serupa terjadi waktu saya berwisata di Thailand bersama seorang teman saya yang laki-laki. Saat itu kami baru keluar dari stasiun kereta dan hujan turun agak deras. Kami berteduh sejenak, dan sebenarnya bermaksud meneruskan ke sebuah mall yang kira-kira berjarak 50 meter dari situ. Dan kala itu hanya saya yang membawa payung (kecil). Dan dia ternyata bermaksud menunggu di situ (tepian sebuah ruko tua yang tidak terurus) sampai hujan reda. Namun saya berpikir, kami tidak tahu kapan hujan akan berhenti. Bagaimana kalau ternyata hujannya lama, katakanlah 3 jam? Bukankah waktu berlalu sangat cepat, dan sedetik waktu liburan di Thailand itu sangat berharga? Yah akhirnya kami memang menerobos hujan (atas paksaan saya) dan menyelamatkan lebih banyak waktu (1 jam) yang tadinya akan terbuang. Pernah juga, waktu saya berkumpul bersama teman-teman laki-laki di kosan seorang teman kuliah yang terletak tidak jauh dari kampus (5 menit jalan kaki), tiba-tiba hujan turun padahal saat itu kami harus segera ke kampus karena ada kelas yang segera dimulai. Dan mereka tampak kebingungan dan mengeluh seolah sedang ditimpa suatu kejadian yang menghalangi kuliah. Biasanya kami memang berjalan kaki apabila menuju kampus dari kosan itu. Ketika saya mengusulkan untuk menggunakan payung, mereka tampak agak enggan, meskipun akhirnya mereka tetap berjalan kaki menggunakan payung. Akibatnya kami basah sedikit sih, tapi yang penting kan sampe juga di kampus.

Kadang saya merasa rada gemes dengan perilaku sebagian orang yang langsung 'menyerah' begitu saja hanya karena hujan. Padahal hujan itu kan fenomena yang kerap terjadi dan merupakan peristiwa yang biasa, yang semestinya tidak menjadi halangan untuk melakukan suatu kegiatan. Lain halnya sih kalau hujan badai atau hujan petir. Tapi kalo hujan sedikit aja langsung pada ogah ini-itu, bisa-bisa lumpuh semua kegiatan di perkotaan. Maksudnya, baru hujan aja udah begitu, gimana kalo ada angin topan? Saya kagum dengan orang-orang di Jepang yang tetap berjalan kaki dan berpayung meskipun sedang hujan deras. Di sebuah video, saya memperhatikan orang-orang tetap menyeberang seperti biasa di persimpangan Shibuya dengan payung mereka tanpa berteduh lebih dahulu, dan tanpa mempedulikan hujan. Dan satu hal lagi yang agak menakjubkan adalah fakta bahwa, ya ampun, umur peradaban manusia di dunia sudah beribu-ribu tahun lamanya namun sampai sekarang manusia masih belum juga sepenuhnya mampu menangani 'bencana alam' bernama hujan.

Minggu, 31 Oktober 2010

Aduuh, gue baik banget sih

Jadi ceritanya hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-22 (perasaan kemarin baru 18 dah, tau-tau udah 22 aja.. jangan2 bentar lagi 30.. hyaaa). Berhubung saya lagi cukup gembira karena sudah gajian ronde 1 beberapa hari sebelumnya, dan gajian ronde 2 di hari ultahku ini, saya bermaksud menraktir beberapa teman yang memang sudah menagih-nagih dari seminggu sebelumnya. Pilihan tempatnya ada 10, yaitu: Marche Movenpick, The Social House, Loewy, Pizza e Birra, California Pizza Kitchen, Red Tomato, Bibliotheque, The Apartment, Indochine, dan Corks & Screw.

Pertama kali sih rencananya mau di Marche aja, karena suasananya seru, meriah, ada kereta gantungnya juga yang diisi dengan meja dan kursi makan, hehe. Padahal dulu restoran ini tersembunyi dan eksklusif di gedung Hotel Melia, ga begitu rame. Tapi, setelah ganti manajemen dan pindah ke Plaza Senayan, perasaan semua kalangan jadi punya akses ke situ, dan hasilnya jadi rame membludak, dan jadi banyak orang-orang norak yang menyerbu restoran ini, termasuk para ababil, yang sepertinya begitu bangga karena mendatangi restoran ini dan juga beranggapan bahwa restoran ini baru. Di Marche yang baru, steaknya masih enak, cuma jadi jauh lebih mahal dan pelit!! Swiss Chocolate-nya yang tadinya sangat enak itu, jadi beda. Ga enak... (tapi gw berhasil menemukan minuman coklat serupa sih, tapi di Multimart di Manado, heu) Berhubung saya udah pernah beberapa kali ke Marche, baik yang lama maupun yang baru, saya mencoret restoran ini dari daftar.

Pilihan kedua, Pizza e Birra. Tempatnya sih sepertinya mengasyikkan; berlangit-langit tinggi dengan atap dan dinding yang transparan karena terbuat dari kaca. Dan restoran ini, yang di Kuningan, letaknya di luar, rada deket jalan, dan bukan di dalam mal. Mungkin seru juga sore-sore makan di sini sambil diterpa cahaya matahari sore, namun karena rencana makannya bakalan malam, jadi restoran ini pun dicoret dari daftar.

Pilihan ketiga, The Social House. Kabarnya tempat ini merupakan tempat hang terpopuler para kaum hip (maksudnya apa pun saya tidak tau) dan sosialita Jakarta, juga para ekspatriat. Pengen sih nyobain, cuma begitu baca review para customernya yang pas masuk diplototin dari kaki sampe kepala (untuk mengecek kaum kelas apakah dia), dan juga pilihan menu dan suasananya yang biasa, jadi sepertinya restoran ini tidak begitu istimewa untuk dipakai merayakan ulang tahun.

Pilihan keempat, Loewy. Namanya rada-rada sok classy deh, haha. Makanya para sosialita, ekspatriat, dan lagi-lagi hip, menyukai tempat ini. Namun menurut review, katanya tempat ini rada bermasalah. Sangat ramai dan hingar-bingar di malam minggu, sehingga harus book, dan waiting listnya panjang. Saking penuhnya, tamu-tamu yang berlama-lama bahkan bisa diusir secara halus, dan makanan yang belum habis konon pernah diangkat oleh waiter tanpa permisi. Selain itu juga disebut bahwa waiter pernah salah membawa makanan lalu dikomplain oleh tamu, namun si waiter begitu sok tahu dan bersikeras bahwa dia tidak melakukan kesalahan dan tidak sedikit pun meminta maaf. Pada akhirnya disebut bahwa si waiter membawakan makanan yang benar dengan muka cemberut. Jadi sepertinya yang ini juga mesti dicoret dari daftar, ga mau ambil resiko ah..

Pilihan kelima dan keenam: California Pizza Kitchen dan Red Tomato. Banyak yang bilang pizza-nya enak, namun suasananya biasa dan casual banget sepertinya. Malah kata teman saya Red Tomato kaga halalan n toyiban, jadi kayaknya engga deh...

Pilihan ketujuh, kedelapan, kesembilan: The Apartment, Corks & Screw, Indochine. Yang 2 terakhir sepertinya mengasyikkan, tapi suasana dan temanya rada umum sih. Ga ada yang istimewa. The Apartment temanya unik, tapi karena terlalu rumahan, jadi mungkin bakal kurang mengasyikkan.

Jadi, pilihan jatuh pada Bibliotheque yang terletak di Sampoerna Strategic Square. Foto-fotonya di internet sepertinya sih mengasyikkan. Mirip perpustakaan tua yang berlangit-langit tinggi di kastil Harry Potter gitu deh. Setalah gw browse, range harganya sih sepertinya normal. 70an lah per menu, meski kabarnya ada yang sampe 200 bahkan 400ribuan. Menurut skala restoran yang saya temukan, range harga makanan di Bibliotheque setingkat dengan Tamani, berarti seharusnya murah. Beberapa sumber mengatakan restoran ini memiliki dress code yang strict. Bahkan gara-gara ini, gw sampe belanja baju lho..

Sehari sebelumnya, Novi udah teleponin restorannya dan book buat jam 6 atau 7an. Jam 4an gw dapet kabar bahwa Sita jatuh lagi. Trus gw tanyain, "Jatuh gimana? Jatuh dari motor? Dimana?" Sita pun membalas, "Di jalan, hiks... Gw ga tau nih bisa dateng atau nggak, tapi gw usahain. Ini lagi diobatin. Tapi tenang aja, gw udah nyiapin kado spesial kok"... Trus gw bales, "Waduh ada-ada aja... Perasaan jatuh mulu dah. Makanya latihan bawa motornya yang rajin. Cepet sembuh deh ya."

Jam stengah limaan gw nyamperin Novi di Plaza Semanggi. Dia yang keluar kantor jam 1 siang ternyata nyalon dulu di Rudy Hadisuwarno Plangi sembari menunggu. Dan dia merasa salah gaya rambut. Modelnya curly-curly gitu deh. Selain itu di Plaza Semanggi yang alay itu, kami sudah mengenakan pakaian lengkap yang sangat resmi. Bahkan Novi merasa ada orang lain yg menertawakan penampilannya yang sangat rapi dan resmi. Tak lama, Cinan nelpon dan nanyain, "Lo pada mau solat di mana?"

Senin, 18 Oktober 2010

One of the bad days of my life (practising English)

Last Saturday, I went to this 'rural town' to teach some students as usual. It's a little bit embarrassing to tell which town I was going, so I won't disclose it. Haha. After spending 5 hours teaching, I left the building while it was still raining outside. The rainfall was still extremely abundant but I insisted that I need to leave the town as soon as possible. Novi texted me some hours before that she had just canceled her thesis trial exam because she was busy with her work at the office (and she was making that an excuse). Apart from that, I caught one of the literally ubiquitous public vans (while struggling to walk on wet sidewalks and roads flooded with rapidly flowing deep water) and headed to the toll gate where several buses were waiting. After I got in the bus, eventually she called me and asked if I had done teaching, and it sounded like she were planning to go somewhere and wanted to be accompanied (lolz), and she already did (go). She was at Plaza Semanggi to buy an unimportant and illusive Body Shop product. While still on the phone, she asked which movie was worth-watching and whether the movie was showing there or not. So, I agreed to meet up with her there, and asked her to wait for about an hour. Besides, I wanted to try the legendary Gelare which is claimed to be the most delicious ice cream waffle in Jakarta. It usually takes some minutes for the bus to collect enough passengers before departing to Jakarta. And, a heavy traffic jam is likely to occur on the toll road in those hours, apparently caused by a silly toll gate at the intersection. After spending 45 minutes running on the highway, the bus exited and dropped some passengers. I caught a cab as soon as I got off the bus. The journey to the destination took about IDR40000 and another 20 minutes.

As promised, I made it to Plaza Semanggi on time (at least for me). We met at Gramedia and headed off to Plaza Indonesia to enjoy the waffle while listening to her stories of unfortunate experiences she had at the office. We took the unreliable Transjakarta bus and arrived some minutes later. We approached the concierge and asked them about Gelare. Unfortunately, it was temporarily closed due to renovation. So our next plan was to watch this quality-less movie "Eat Pray Love". The only reason we were choosing that movie is because we were curious to see Christine Hakim act in English, and also the Balinese culture shown in the movie. Besides, I got this IDR25000 discount voucher for buying two meals at Yoshinoya several days before. As I remember, the cinema fare at PI on weekdays should be IDR15000, and probably on weekends IDR30000 or IDR35000. But after purchasing the tickets, I was shocked to realize that the tickets cost IDR50000 each, so my voucher didn't help that much. We still had to pay IDR75000 anyway. And for such underrated movie, it was such a waste!

While waiting for the movie, we arranged 2 plans: visiting GI and Thamrin City which is claimed to be the largest batik trade center in the world. But since I still hadn't found any similar waffle store in PI even until many minutes later, we canceled the 2nd plan. Eventually we ran to GI across the street in search of a plate of waffle. But since it was a huge shopping center, we got lost and tried to ask the concierge. They recommended several stores I don't recall, and before ending their answer, they mentioned Dairy Queen. Desperately willing to eat waffle, we tried Dairy Queen. Novi approached the counter, so there was no turning back... aarggh.. I could hardly find any waffle on the menu, but there were actually several menus labeled waffle. But according to the pictures, it seemed that those were not actual waffles. I reluctantly paid IDR45000 (uugh) only to find that the waffle was fake. Actually it was just Wall's Conello or Magnum with cone, all disguised as an ice cream waffle. While I was still feeling bad, Novi, totally uncalled for, mercilessly commented on my reluctant plan to pursue study overseas, and gosh, I was freaking out, like... err... Why did she need to give inappropriate and unwanted comments on such thing in a bad timing? Since then, I remained in a bad mood for the rest of the day. The movie didn't help much either. To be honest it was a boring movie, and I was nearly sleeping when watching it. The only good things about it were the exoticness and authenticity of Italy, India, and Bali shown there. And I was wondering why the first two of the places were countries, while the last one was a province.

The next day I rehearsed with the string quartet for upcoming wedding performance, which would be on 30th Oct 2010. After finishing the practice, I went to the recently-opened Gandaria City by purposely taking a painfully slow, roundabout route (It has been years since the last time I used the route: Matraman - Dukuh Atas - Harmoni - Grogol - Daan Mogot - Kedoya - Kebon Jeruk - Pos Pengumben - Permata Hijau - Kebayoran Lama - Gandaria). Actually choosing Blok M from Dukuh Atas and continuing the travel by hiring an ojek would be much much much faster, hahaha. And to make it even worse, I had to walk like 1 or probably 2 kilometers from the nearest busway station (why do they call it 'shelter'?) to the mall I was heading to.

Unfortunately, the mall was very typical, and thus, boring!! I hate today's shopping mall design trend (although I used to love it once)! All shopping malls claimed to be luxurious, are no different. Emporium Pluit, PIM 2, Sency, Central Park, Pluit Village, Pejaten Village, and Gandaria City. It seems that they are wasting those valuable lands by building similar malls. Btw I went to Gandaria City to meet some friends and attend Korean Food Festival, which was far below my expectation. And again, even worse, they were leaving so fast. It had not even been 2 hours.

The End.